Banjir tak kunjung surut, pengungsi di Juwana Pati mulai diserang penyakit - MENGGAPAI ASA

Banjir tak kunjung surut, pengungsi di Juwana Pati mulai diserang penyakit

Banjir tak kunjung surut, pengungsi di Juwana Pati mulai diserang penyakit

menggapaiasa.com, PATI – Sudah sebelas hari lamanya, Balai Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana, berubah fungsi menjadi rumah sementara bagi puluhan warga yang terdampak banjir. 

Hingga Kamis (22/1/2026), genangan air tak kunjung surut, bahkan cenderung meningkat, memaksa warga bertahan di tengah keterbatasan.

Agus Ariyadi, salah satu warga RT 06 RW 01 Desa Bumirejo, menuturkan bahwa ketinggian air di dalam rumahnya kini telah mencapai pinggang orang dewasa. Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh total.

"Di dalam rumah airnya sepinggang, tidak bisa beraktivitas sama sekali," ujar Agus saat ditemui di posko pengungsian. 

Menurutnya, banjir kali ini jauh lebih parah dibandingkan musibah serupa yang terjadi pada Maret 2024 lalu.

Agus menambahkan, setidaknya ada 17 Kepala Keluarga (KK) dengan total sekitar 50 jiwa dari lingkungannya yang kini tinggal di balai desa. 

Untuk menyelamatkan harta benda, warga terpaksa menumpuk barang elektronik di atas meja tinggi agar tidak terendam, mengingat debit air diprediksi masih akan naik.

Senasib dengan Agus, Tutik yang juga warga RT 06, terpaksa memboyong lima anggota keluarganya ke pengungsian sejak Senin (19/1/2026) pagi. 

Ia mengaku sedih karena banyak barang elektroniknya yang akhirnya rusak terendam air.

"Di jalan airnya sedada orang dewasa, kalau di dalam rumah seperut. Kemarin mau diselamatkan, tapi air naik cepat sekali, ya sudah dibiarkan terendam semua," ungkap Tutik nada pasrah.

Meski kebutuhan pangan mulai tercukupi berkat bantuan donatur, masalah baru mulai muncul di pengungsian. 

Terbatasnya fasilitas sanitasi menjadi kendala utama. "Tidur alhamdulillah nyaman, cuma kamar mandi cuma satu, jadi harus ngantre panjang," tambah Tutik.

Selain masalah sanitasi, gangguan kesehatan juga mulai menyerang para pengungsi, terutama anak-anak dan lansia. 

Agus mengeluhkan warga mulai menderita kutu air karena terlalu lama bersinggungan dengan air banjir. 

Sementara itu, putra Tutik yang masih berusia 2,5 tahun sempat mengalami muntah-muntah.

"Anak saya muntah-muntah terus, tapi syukur kemarin ada pemeriksaan kesehatan gratis dari tim Dokkes Polri. Sekarang sudah dapat obat," kata Tutik.

Hingga saat ini, warga masih sangat mengandalkan uluran tangan donatur untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sambil berharap intensitas hujan menurun agar mereka dapat segera kembali dan membersihkan rumah mereka.

Kondisi banjir parah bukan hanya terjadi di Desa Bumirejo, desa-desa di sekitarnya juga terendam dengan ketinggian rata-rata satu meter. Desa-desa tersebut antara lain Kedungpancing, Tluwah, dan Jepuro.

Beberapa warga di desa-desa tersebut tampak berlalu-lalang menggunakan ban pelampung atau sampan kayu.

Pada Senin (19/1/2026) lalu, Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi dan jajarannya bersama Camat Juwana Sunaryo mendistribusikan bantuan pangan untuk korban banjir di desa-desa yang terdampak banjir paling parah.

Mereka turun langsung menggunakan perahu karet untuk mendistribusikan bantuan makanan bagi warga terdampak di pos-pos pengungsian.

Distribusi bantuan pangan tersebut difokuskan pada desa-desa dengan tingkat genangan yang cukup tinggi, di antaranya Desa Bumirejo, Kecungpancing, Jepuro, dan Tluwah.

Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, mengungkapkan bahwa Juwana menjadi wilayah dengan dampak banjir terparah di Kabupaten Pati. 

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, ketinggian air masih berkisar antara 1 hingga 1,5 meter di beberapa titik lokasi.

“Juwana ini yang paling besar dampaknya. Hari ini kami bersama jajaran TNI dan relawan bersinergi menyalurkan bantuan makan siang ke desa-desa yang masih tergenang,” ujar Kombes Pol Jaka Wahyudi saat meninjau dapur umum di Kecamatan Juwana, Senin lalu. 

Dia juga menambahkan bahwa pihak kepolisian telah menyiagakan layanan pengobatan gratis bagi para pengungsi sejak hari pertama.

Camat Juwana, Sunaryo, menambahkan bahwa demi memenuhi kebutuhan logistik, pihak kecamatan bersama relawan, TNI, dan Polri mengelola dapur umum di Pendopo Kantor Kecamatan Juwana yang beroperasi setiap hari.

"Dapur umum ini menyiapkan sekitar 3.500 bungkus makanan setiap harinya untuk didistribusikan ke desa-desa terdampak," kata dia.

Sebanyak 100 hingga 150 sukarelawan terlibat aktif dalam proses memasak dan distribusi.

Sunaryo menjelaskan bahwa dampak banjir di wilayahnya cukup luas dengan ketinggian air bervariasi.

Ketinggian air paling parah berada di Desa Doropayung, mencapai sekitar 1,5 meter.

“Jumlah pengungsi tercatat sebanyak 676 orang. Titik pengungsian tersebar di masing-masing desa, ada yang di balai desa, ada juga yang mengungsi ke rumah saudara atau tetangga yang tidak terendam,” terang dia.

Adapun total warga terdampak banjir di Kecamatan Juwana berdasarkan data terakhir mencapai 15.776 jiwa. (mzk)

Posting Komentar untuk "Banjir tak kunjung surut, pengungsi di Juwana Pati mulai diserang penyakit"