Bandung Zoo soal satwa yang dilaporkan stres: butuh dana

PENGELOLA Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo menanggapi dugaan stres pada satwa koleksi terutama yang berstatus dilindungi seperti gajah dan orang utan. Menurut juru bicaranya, Sulhan Syafi’i, upaya maksimal telah dilakukan agar perilaku satwa tetap seperti di alam liar. “Untuk mencapai tingkat ideal itu memang butuh dana karena perlu rekayasa,” katanya, Kamis 22 Januari 2026.
Dari sebuah seminar internasional yang pernah diikuti soal kandang gajah yang ideal di kebun binatang, Sulhan mengatakan, pembangunannya memerlukan banyak dana. Pengayaan (enrichment) pemberian makan misalnya dibuat saluran-saluran agar gajah bisa mendapatkan makanan seperti pisang, rumput, yang tidak menerus pada suatu tempat melainkan berganti lokasi setiap hari.
Sementara Bandung Zoo, menurutnya, baru bisa melakukan pemberian makan di tempat berbeda dengan cara sederhana. “Memang kondisi yang terbatas ini belum maksimal,” ujar Sulhan.
Selain itu gajah di hutan harus berjalan minimal 20 kilometer per hari. Sementara gajah di Bandung Zoo tidak bisa dibawa berjalan-jalan sejauh itu. “Dalam kondisi sepi pengunjung waktu pagi kita bawa keliling sambil dia makan rumput,” ujarnya.
Diperkirakan jika gajah harus dibawa keliling area kebun binatang dengan jarak setara 20 kilometer, waktunya mulai dari pagi sampai siang, atau akan bertabrakan dengan jam buka bagi pengunjung antara pukul 08.00-09.00 WIB. Saat ini Bandung Zoo masih dibuka sebagai ruang terbuka hijau setiap hari tanpa tiket hingga pukul 14.00.
Dituturkan Sulhan, koleksi gajah di sana kini berjumlah dua ekor yang semuanya betina, bernama Ira, sekitar 53 tahun, dan Salma, 56 tahun. Mereka berasal dari Way Kambas, Lampung, yang menghuni Kebun Binatang Bandung sejak 1980-an.
Sementara pada satwa primata seperti orang utan, lokasi idealnya di pepohonan tinggi. “Itu mahal untuk merekayasa pohonnya dan berisiko kabur,” kata Sulhan. Saat ini orang utan ditempatkan pada tiga kandang yang terbuka.
Sebelumnya organisasi lingkungan Geopix melayangkan surat ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat untuk melaporkan kondisi satwa di Bandung Zoo. Humas BBKSDA Jabar Ery Mildrayana mengatakan pihaknya belum mengetahui berapa banyak satwa di Bandung Zoo yang mengalami stres. “BBKSDA Jabar akan menurunkan tim untuk mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut dan kondisi real di lapangan,” katanya, Selasa, 20 Januari 2026.
Dari hasil pantauan di lokasi pada 14 Januari 2026, menurut Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati, satwa dilindungi seperti tapir diduga kehausan, begitu pun beruang madu yang juga kelelahan. “Ada gajah matanya merah, itu salah satu tanda stres,” katanya kepada Tempo, Selasa 20 Januari 2026. Indikasi lain yaitu swaying atau gerakan berulang gajah tanpa tujuan yang dapat disebabkan oleh kurangnya pengayaan (enrichment).
Sementara orang utan dan monyet hitam ada yang mengalami kebotakan di bagian kepala, lengan, dan kaki bawah. Penyebabnya bisa oleh penyakit kulit, malnutrisi, atau stres. Menurut Annisa perlu riset dan audit lebih lanjut secara transparan tentang apa yang terjadi pada satwa di Kebun Binatang Bandung oleh Kementerian Kehutanan dan pihak independen.
Bandung Zoo menurut Sulhan berterima kasih kepada pihak yang memberikan masukan. Pengelola pun akan terbuka terhadap masukan dan siap diajak berdiskusi untuk mencari cara mengatasi masalah kondisi satwa.
Posting Komentar untuk "Bandung Zoo soal satwa yang dilaporkan stres: butuh dana"
Posting Komentar