Akhiri konflik internal, cucu pendiri NU didorong pimpin PBNU gantikan Yahya Cholil - MENGGAPAI ASA

Akhiri konflik internal, cucu pendiri NU didorong pimpin PBNU gantikan Yahya Cholil

menggapaiasa.com - Dorongan agar kisruh di internal Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) segera diakhiri terus berdatangan. Kali ini Pengasuh Pondok Pesantren Ma'hadul Ilmi Asy Syar'ie (MIS) Sarang, Rembang, Jawa Timur, kiai Imam Baehaqi menilai perlunya ada pemimpin baru di PBNU.
 
Imam mengatakan, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf telah dimandatkan untuk menggelar muktamar sebagai jalan keluar. Namun, sampai sekarang belum ada kejelasan waktu muktamar akan digelar.
 
"Sampai saat ini belum ada kemajuan signifikan, makanya kita butuh figur baru untuk memimpin PBNU," kata Iman, Senin (5/1).
 
Imam menilai, kedua kubu yang saling berseteru cenderung belum menunjukan niat baik menggelar muktamar. Kondisi ini dianggap bisa membahayakan karena bisa menyulut eskalasi kembali memanas.
   
"Yang dirugikan adalah NU secara jam’iyyah dan Nahdliyyin sebagai warga anggota beserta kekuatan penopang NU, yakni entitas pondok pesantren," imbuhnya.
 
Menurutnya, semua unsur di dalam NU bersepakat bahwa Muktamar bisa mengakhiri konflik di PBNU. Muktamar menjadi forum untuk menimbang masalah, tingkat pelanggaran, sanksi para pelanggar dan solusi atas dampak kisruh internal PBNU.
 
"Namun, ada indikasi terlihat, keduanya berusaha menghindari penilaian negatif dari kepemimpinan gaduh, mengaburkan sorotan arogansi struktural dengan bersembunyi dibalik alasan taat prosedur, berkegiatan untuk saling memperkuat legitimasi paksa, dan menggalang silaturrohim-silaturrohim demi menutup ego personal yang terlanjur tidak bisa ditutupi," ucapnya.
 
Oleh karena itu, Imam beranggapan bahwa Muktamar selanjutnya bisa menghasilan nakhoda baru PBNU. Sehingga, bisa memberikan penyegaran terhadap arah organisasi.
 
"NU dikembalikan pada poros utama, penggerak ulama pesantren beserta entitas sosial budayanya untuk berkhidmat pada Islam ASWAJA dan tegaknya NKRI menuju Indonesia emas demi mewujudkan kemashlahatan bersama dan peradaban yang berkeadilan sosial," jelasnya.
 
Beberapa ulama dianggap Imam memiliki kapasitas memimpin PBNU. Salah satunya adalah Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).
 
"KH Abdussalam Shohib, dikenal dengan Gus Salam, cucu KH Bishri Syansuri, salah satu pendiri jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Gus Salam sepupuan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Hasyim Wahid (Gus Iim, adik Gus Dur) di mana ibunda Gus Dur dan Gus Iim adalah Bu De atau kakak kandung dari ayahanda Gus Salam," kata Imam.
 
Dia mengungkapkan, Gus Dur dan Gus Salam dilahirkan di rumah yang sama, yakni Ndalem Kasepuhan Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar. Dari jalur ibu, Gus Salam adalah kerabat dari keluarga besar PP Tarbiyatun Nasiin, KH Aziz Mansur, Paculgowang Jombang dan PP Lirboyo, Kediri Jawa Timur.
 
Gus Salam kecil dididik dilingkungan PP Mamba’ul Ma’arif, menginjak remaja ditempa ilmu agama khas pesantren secara mendalam hingga diambil menantu oleh keluarga PP Al Falah Ploso, Mojo Kediri. Kekerabatannya dari jalur ayah-ibu atau kakek-nenek dengan banyak pesantren besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, turut membentuk dan mematangkan kepribadiannya.

Posting Komentar untuk "Akhiri konflik internal, cucu pendiri NU didorong pimpin PBNU gantikan Yahya Cholil"