2026 dalam dunia fiksi: Inilah impian seorang ibu yang juga penulis cerpen - MENGGAPAI ASA

2026 dalam dunia fiksi: Inilah impian seorang ibu yang juga penulis cerpen

Jangan kaget, jika Anda menemukan hal-hal yang tidak mungkin dalam tulisan ini. Apalagi menganggap imajinasi saya cukup liar disandingkan dengan kenyataan sebenarnya.

Sebagai penulis cerpen yang kerap mengangkat isu keluarga, ketika admin menggapaiasa.commenawarkan berandai-andai tentang bagaimana tahun 2026 akan berjalan, saya akan menanggapinya dari sudut pandang fiksi.

Pertama, impian bahwa anak-anak menyukai buku, dan tidak bergantung pada gadget

Di tahun 80-an, saya mulai mengenal buku. Saat itu bapak saya gemar membeli majalah bekas (Tempo dan Intisari) dan beliau menyisipkan satu-dua buku cerita anak (Bobo). Kalau tidak salah, waktu itu majalah bekas dibeli dengan ditimbang, jadi boleh pilih-pilih judul mana yang disukai.

Saya tidak mempunyai banyak saudara, hanya satu orang adik laki-laki. Bapak membuka jasa jahit pakaian di rumah, di sebuah perkampungan kecil. Ibu bekerja di pabrik kayu lapis, dan meninggalkan rumah setiap hari kecuali Minggu. Saat itu membaca buku, menjadi cara saya menjauhkan diri dari rasa sepi.

Berangkat dari pengalaman masa kecil tersebut, kini saya memimpikan hidup anak-anak tidak bergantung pada gadget. Tetapi bukan disebabkan perasaan iri karena mereka berada pada era teknologi digital. Jujur, saya melihat benda tersebut sebagai tools yang memfasilitasi siapapun agar lebih maju. Tetapi sebagai orang tua, saya kewalahan dengan dampaknya.

Saat ini, anak tengah saya (usia 15 tahun) sudah kecanduan game online. Awalnya, dalam season pemula setahun yang lalu, dia hanya memainkan 69 pertandingan selama tiga bulan. Sekarang, jauh melonjak menjadi 780 pertandingan dalam satu season. 

Meskipun anak saya masih mau beraktivitas normal seperti sekolah, sholat, makan, mandi, dan tidur malam, fokus dan kesadarannya sudah cukup terganggu. Bukan hanya emosinya  mudah berubah, tetapi dia juga mudah lupa!

Yang saya alami ini, juga dialami oleh banyak keluarga lainnya.

Di Indonesia, tercatat 35,57% anak usia dini sudah dapat mengakses internet. Selengkapnya seperti berikut:

Fakta ini memprihatinkan banyak kalangan, terlebih seorang ibu seperti saya. Seandainya boleh, ingin rasanya setahun saja fenomena gadget hilang dari kehidupan anak-anak.

Begitu banyak konten meresahkan yang mengancam pola berpikir anak. Tidak cukup kiranya dengan membatasi screen time saja. Sedangkan memasukkan anak ke pondok pesantren, hanya bisa dilakukan oleh keluarga muslim. Artinya, hal ini belum menjadi solusi yang benar-benar efektif. 

Jika anak-anak menyukai buku, mereka tetap dapat belajar dan memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia. Namun, akses informasi melalui buku tidak secepat melalui internet seperti saat ini.

2026 dalam dunia fiksi, bolehkah anak-anak menyukai buku ketimbang gadget? Bolehkah toko buku di Jakarta tidak gulung tikar?

Impian kedua, para ibu membacakan dongeng untuk anaknya sebelum tidur 

Arus teknologi semakin deras, sedangkan kehadiran ibu dalam keseharian anak semakin jarang dirasakan.

Di antara isu keluarga yang tertuang dalam cerpen saya, juga menyebut pentingnya peran ibu dalam pola asuh. 

Cerpen Apa Kabarmu Hari ini Kitty?, menggambarkan seorang anak bernama Lisa yang harus merasakan kesepian. Orang tuanya sibuk bekerja, sehingga ia hanya ditemani pengasuh dan kucing kesayangannya saja. 

Cerpen Quilt, Rasakan Hangatnya Selimut Harapan, menceritakan gadis bernama Sally yang terus-menerus sakit karena terlalu memikirkan dan merindukan kedua orang tuanya. Sewaktu bayi, Sally ditinggalkan begitu saja di depan rumah tetangga yang kemudian merawatnya. Sebelum makan malam, Sally berdoa ingin dipertemukan dengan orang tuanya walaupun hanya lima menit.

Yang ingin saya katakan adalah ketidakhadiran ibu dalam kehidupan seorang anak, menjadi beban psikologis tersendiri dan seharusnya ini tidak terjadi.

Seorang ibu yang menjalankan perannya dengan baik, dapat mendukung pembentukan karakter anak, perkembangan emosi dan kognitif, menumbuhkan rasa percaya diri, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Yang terlihat dewasa ini, para ibu bukan saja aktif dalam berbagai profesi, tetapi semakin banyak yang melakukan berbagai kegiatan ekonomi untuk menambah penghasilan. 

Bahkan dalam kondisi tertentu, anak-anak akhirnya harus beradaptasi dengan minimnya kehadiran ibu di rumah

Sedikit berbeda dengan kasus ibu tunggal. Sebut saja Sorayya, terpaksa menitipkan ketiga anaknya yang masih kecil kepada orang tuanya. Dia harus bekerja sampai malam karena mantan suaminya tidak mengirimkan biaya untuk anak-anak mereka. 

Ironisnya, sang nenek juga tidak dapat mengurus cucunya dengan baik. Anak-anak Soraya seringkali tidak makan seharian dan baru makan pada malam hari, sehingga tubuh mereka tampak kurus. Tidak kalah menyedihkan, anak bungsu Sorayya yang berusia empat tahun mengalami keterlambatan bicara (speech delay).

2026 dalam dunia fiksi, saya benar-benar memimpikan seorang ibu yang dapat berdiri di tempat semestinya. Mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya, menjaga, merawat, dan mendidik mereka dengan baik.

Salah satu contoh yang sangat-sangat langka saat ini adalah ibu yang membacakan dongeng sebelum mereka tidur. Kelihatannya sepele, namun dongeng dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai positip dan budi pekerti kepada anak.

Saya ingin selama setahun saja ini bisa menjadi kenyataan. Biarlah anak-anak mendengar semuanya bukan dari aplikasi gadget, tetapi mendengarnya secara langsung dengan bahasa ibu mereka yang penuh kasih.

Impian ketiga, para ayah mengajak anak laki-lakinya sholat di masjid sejak dini (bagi keluarga muslim)

Remaja kekinian, hapal benar apa itu red flag, green flag, family man, soft spoken, dan sebagainya.

Di media sosial, berseliweran berbagai konten edukasi hingga psikologi keluarga. Jika ditelusuri lebih dalam, banyak persoalan yang berakar pada kegagalan pembinaan sejak dini terhadap anak laki-laki. Padahal, anak laki-laki akan tumbuh dewasa, membentuk karakter kepemimpinan, serta kelak berperan sebagai ayah sekaligus kepala keluarga.

Mengajak anak laki-laki sholat di masjid sejak dini, dapat membentuk fondasi kepemimpinan, disiplin, dan tanggung jawab. Hal ini kelak tercermin dalam perannya sebagai pribadi dewasa. 

Figur ayah, menjadi role model yang ideal untuk memberikan contoh serta membimbing anaknya. Kehangatan seorang ayah cepat memotivasi sikap mental anak yang sedang tumbuh dan mencari pegangan.

Saat ini, cukup sulit menemukan sosok ayah yang baik. Sebagai seorang ibu, saya sangat terpanggil dan memimpikan 2026 menjadi tahun di mana anak laki-laki berada di masjid bersama ayah mereka, mengenal nilai-nilai spiritual sejak dini.

Nah, bagaimana dengan Anda? Seperti apa 2026 dalam dunia fiksi versi Sahabat Kompasianer?

***

Kota Kayu, 4 Januari 2026

Posting Komentar untuk "2026 dalam dunia fiksi: Inilah impian seorang ibu yang juga penulis cerpen"