Saran IDAI tentang proses belajar anak di tengah bencana

BENCANA banjir yang belakangan melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan sekitarnya tidak hanya mengganggu aktivitas harian masyarakat, tetapi juga memengaruhi proses belajar anak. Sekolah terendam air, ruang kelas rusak, dan sebagian anak terpaksa mengungsi ke tenda-tenda darurat. Dalam kondisi seperti ini, konsep belajar tidak bisa disamakan lagi dengan situsi normal.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menekankan bahwa di tengah situasi darurat akibat bencana alam, yang terpenting adalah anak tetap belajar, meskipun dengan cara yang sangat sederhana dan berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.
Proses belajar di situasi ini harus bersifat adaptif. Belajar dapat dilakukan di tenda pengungsian, posko darurat, atau ruang sementara lainnya, dengan durasi yang lebih pendek dan materi yang disesuaikan dengan kondisi anak. Fokus pembelajaran bukan pada pencapaian akademik semata, melainkan pada keberlangsungan proses belajar.
Pilihan Editor: Pengaruh Majalah Anak terhadap Pandangan Soal Gender”Konsep belajar dilakukan di tenda-tenda darurat, jadwal belajar harus adaptif, dan durasi dipersingkat,” ujarnya dalam sambutanya pada seminar “Kapan dan Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Sekolah” yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa, 16 Desember 2025.
Belajar Keterampilan Hidup
Dalam situasi darurat, pendekatan pembelajaran juga diarahkan pada life skill atau keterampilan hidup. Anak diajak belajar tentang kebersihan diri, menjaga kesehatan, bekerja sama, saling membantu, serta memahami kondisi di sekitarnya. Nilai-nilai tersebut dinilai jauh lebih relevan untuk membangun ketahanan mental dan emosional anak di tengah krisis.
”Belajar life skill seperti perilaku hidup sehat bersih di pengungsian, bagaimana caranya mencegah agar tidak diare, melengkapi imunisasi anak-anak seperti campak," kata dia.
Piprim menegaskan, ketertinggalan pelajaran akademik bukanlah masalah utama dalam kondisi seperti ini. Ketika situasi sudah kembali pulih dan sekolah dapat berjalan normal, materi yang tertinggal masih bisa dikejar. Namun, jika anak kehilangan kesempatan belajar sama sekali, terutama dalam aspek sosial dan emosional, dampaknya justru bisa lebih panjang.
Pilihan Editor: Mengenal Self-Harm yang Menyerang 17 Persen RemajaPernyataan tersebut sejalan dengan konsep kesiapan anak bersekolah yang dibahas dalam seminar IDAI. Kesiapan sekolah tidak hanya diukur dari kemampuan akademiknya, tetapi juga dari kesehatan fisik serta kemampuan sosial dan emosional. Anak yang sehat secara fisik memiliki energi dan daya tahan tubuh untuk mengikuti aktivitas belajar, sementara kesiapan sosial emosional membantu anak beradaptasi dengan perubahan, tekanan, dan lingkungan baru, termasuk dlm situsi bencana.
Pengalaman seperti belajar di tenda pengungsian dinilai dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kesiapan anak masuk sekolah. Anak belajar mengelola emosi, berinteraksi dengan orang lain, dan memahami bahwa belajar tidak selalu berlangsung di bangku sekolah. Sekolah bukan sekadar bangunan, melainkan proses berkelanjutan yang dapat berlangsung di mana pun, selama anak tetap didampingi dan mendapat stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
HESTI DWI ARINI Pilihan Editor: Bahaya Kekerasan Domestik pada Anak
Posting Komentar untuk "Saran IDAI tentang proses belajar anak di tengah bencana"
Posting Komentar