Peran generasi muda pada ekonomi sirkular di Indonesia - MENGGAPAI ASA

Peran generasi muda pada ekonomi sirkular di Indonesia

PERAN generasi muda juga memiliki ruang sendiri untuk berkontribusi dalam mendukung dekarbonisasi dan ekonomi sirkular. Salah satunya ditunjukkan oleh penerima SCG Sharing the Dream 2024 Scholarship, Alya Zahra Sabira. Alya menjelaskan soal inisiatifnya membuat komunitas Lembur Lestari di Sukabumi melalui program pengelolaan sampah bertajuk Lembur Lestari menjadi produk pupuk kompos. "Program ini menjadi contoh bagaimana inovasi berbasis komunitas mampu mendorong perubahan nyata dan menciptakan dampak lingkungan yang lebih berkelanjutan," katanya pada acara ESG Symposium 2-25 di The Ritz- Carlton Jakarta pada 2 Desember 2025.

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Pembangunan Nasional Jakarta ini menjelaskan kondisi pengelolaan sampah di Sukabumi telah mencapai tahap krusial. Daerah yang sebelumnya jarang banjir kini justru sering terdampak akibat menumpuknya sampah serta sistem manajemen yang belum memadai. “Inisiatif ini bermula ketika melihat kondisi di tempat pemrosesan sementara yang penuh dan tempat pemrosesan akhir yang hampir overload juga menimbulkan ancaman pencemaran air dan udara, terutama bagi anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Di tengah situasi tersebut, saya melihat bahwa anak muda memiliki kapasitas besar untuk terlibat,” kata Alya.

Selain menjawab persoalan lingkungan, ada pula program Lembur Lestari juga dirancang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi warga Sukabumi yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Di daerah ini, kompos menjadi kebutuhan penting sehari-hari. Inisiatif ini tidak hanya menyediakan solusi pengelolaan sampah, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas melalui penyediaan kompos berkualitas. "Mereka bahkan mengembangkan produk bernilai tambah berupa Lembur Lestari Gardening Kit berisi kompos, bibit, pot, sekop, dan perlengkapan berkebun lainnya, serta memanfaatkan teknologi Internet of Things melalui kuis kepribadian daring yang merekomendasikan bibit sesuai karakter pengguna Inovasi tersebut membuat praktik berkebun lebih menarik sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi komunitas," kata Alya.

Indonesia terus memperkuat komitmennya menurunkan intensitas emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagai bagian dari agenda menuju Net Zero Emission 2060. Pemerintah menargetkan penurunan intensitas emisi hingga 93,5 persen dan peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup menjadi 83,0, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. President & CEO SCG, Thammasak Sethaudom, menegaskan bahwa perjalanan menuju netral karbon tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemitraan, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor. “Kita harus bergerak bersama untuk memastikan transisi yang adil dan inklusif,” ujar Thammasak Sethaudom.

(Kiri ke kanan) H.E. Mr. Prapan Disyatat, Ambassador of the Kingdom of Thailand to the Republic of Indonesia, Thammasak Sethaudom, President & CEO SCG., Sekretaris Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI)/SCG

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong percepatan penerapan energi baru terbarukan (EBT), ekonomi sirkular dan kolaborasi multisektor untuk mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca dan ketangguhan ekonomi nasional. Sekretaris Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kemenperin Muhammad Taufik mengatakan transformasi industri menuju rendah karbon tidak bisa dilakukan hanya sepihak, melainkan membutuhkan kolaborasi banyak pihak agar transisi berjalan inklusif. “Tidak ada satu pun pihak yang bisa berjalan sendiri. Transformasi industri hijau, pertumbuhan hijau inklusif, ekonomi sirkular, dan dekarbonisasi memerlukan kolaborasi erat,” kata Taufik dalam "ESG Symposium 2025" di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, komitmen di atas kertas tidak akan berarti tanpa adanya transformasi nyata di sektor industri. Ia menegaskan keberhasilan dekarbonisasi membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, termasuk akademisi, sektor usaha dan masyarakat. Taufik menekankan bahwa penerapan industri hijau harus inklusif sehingga manfaatnya juga dirasakan UMKM, pekerja dan masyarakat.

Saat ini, ia menyebutkan bahwa sekitar 30-40 persen pelaku industri sudah mengikuti arah peta jalan dekarbonisasi yang disiapkan pemerintah. Namun, dirinya menilai diperlukan percepatan melalui efisiensi energi, pemanfaatan teknologi bersih, serta dukungan fiskal dan insentif yang masih dalam perumusan.

Pada kesempatan yang sama, Ahli Transisi Energi dan CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan telah mengidentifikasi sembilan sektor industri penghasil emisi tinggi yang memerlukan percepatan transisi, seperti semen, besi-baja, pupuk, petrokimia, kertas, kaca, dan keramik, serta tekstil. “Industri yang sudah lebih siap, seperti semen, perlu didorong supaya menjadi contoh bagi sektor lain,” kata Fabby.

APRILIAN RODO RIZKY | ANTARA

Posting Komentar untuk "Peran generasi muda pada ekonomi sirkular di Indonesia"