Menghalau Wewe Gombel di titik rapuh republik, kala LBH dan seniman Jogja melawan lupa
jogja.menggapaiasa.com, YOGYAKARTA - Di sudut bumi Mataram, sebuah petuah tua selalu dibisikkan orang tua kepada anak-anaknya saat langit mulai jingga Aja keluyuran wektu surup, mengko digondol Wewe Gombel (Jangan berkeliaran saat senja, nanti diculik Wewe Gombel).
Di Langgeng Art Gallery Yogyakarta, mitos itu tidak lagi sekadar cerita pengantar tidur. LBH Yogyakarta menggelar pameran arsip dan seni bertajuk Titik Rapuh Republik pada 17-22 Desember 2025.
Karya seni dari puluhan seniman yang dipamerkan seolah ingin mengajak publik menggelar ritual "pengusiran setan" birokrasi dan kekuasaan yang gemar melakukan penghilangan paksa, persis tabiat sang hantu penculik anak dalam dongeng Wewe Gombel.
Penulis dari Warung Arsip, Muhidin M. Dahlan, membuka tabir sejarah tentang bagaimana diksi "Wewe Gombel" menjadi metafora paling tepat bagi para pelanggar HAM. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh majalah politik D&r era 1998 untuk menggambarkan kekuatan gelap yang hobi menculik anak muda.
"Wewe Gombel ini hantu dengan karakter khas Jawa. Rambutnya panjang, bisa terbang, dan suka melakukan penghilangan paksa terhadap anak muda," ujar Muhidin.
Ia mengenang peristiwa kelam April 1998 di Yogyakarta. Saat itu, enam pengamen jalanan hilang ditelan bumi setelah demonstrasi di Bundaran UGM. LBH Yogyakarta, yang dimetaforakan Muhidin sebagai "Tim Dukun”, kala itu dipimpin Budi Hartono, melacak jejak mereka hingga ke panti sosial.
"Wewe Gombel ini licik. Korban ditemukan dalam kondisi trauma berat, mulut mereka terkunci rapat seolah kena sihir. Padahal, mereka disiksa, mulut dicungkil pistol, dan tubuh dijahit di sana-sini. Wewe ini menuduh mereka demonstran bayaran hanya karena mereka rakyat kecil," kata Muhidin.
Muhidin juga menggambarkan bagaimana Wewe Gombel beroperasi dalam kasus pembunuhan jurnalis Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, pada Agustus 1996.
Dia menyoroti betapa tebalnya unsur klenik yang menyelimuti penyidikan kasus pembunihan Udin, terutama yang bersumber dari mitos Pantai Laut Selatan.
Pameran Titik Rapuh Republik yang digelar oleh LBH Yogyakarta di Langgeng Art Gallery. Foto: Januardi/JPNN
Udin dipukul orang tak dikenal di depan rumahnya, di Bantul, pada 13 Agustus 1996. Ia tumbang bersimbah darah. Koma tiga hari di RS Bethesda, lalu mengembuskan napas terakhir pada 16 Agustus 1996. Sampai hari ini, tak satu pun orang dipenjara karena membunuh Udin.
Menurut Muhidin, keanehan dalam kasus Udin mencapai puncaknya ketika sasaran "penculikan" bukan lagi raga manusia, melainkan "tubuh utama" dalam sebuah perkara hukum, yaitu barang bukti.
"Udin memang sudah tidak ada. Agar sempurna ketidakadaan itu, digondollah seluruh barang buktinya, culiklah barang bukti, ambil paksa barang buktinya," ujar Muhidin.
Ia merujuk pada hilangnya alat-alat kerja vital milik Udin, bundelan kliping berita yang kritis, hingga yang paling krusial, yaitu sisa darah sang jurnalis.
Muhidin memaparkan bahwa ketika Polri di Jakarta berupaya menempuh jalur saintifik dengan mengirim sisa darah Udin ke Inggris untuk diperiksa secara forensik, pihak kepolisian di Yogyakarta justru menempuh jalan yang sangat bertolak belakang, yaitu melarung darah Udin ke Pantai Parangtritis.
“Atas bisikan paranormal, mengirim barang bukti berupa percikan darah ke Laut Selatan dengan cara dilarung (dilabuh). Harapannya agar Ratu Kidul bisa membantu memberi jalan terang atas kasus ini," ungkapnya.
Langkah ini dianggap sebagai puncak kemunduran akal sehat, di mana bukti fisik yang seharusnya menjadi kunci di meja hijau, justru diserahkan kepada penguasa laut selatan dalam sebuah ritual mistis.
Narasi Wewe Gombel dan campur tangan supranatural ini disebut Muhidin sebagai "titik rapuh" yang terus diupayakan untuk menutupi kebenaran.
Pameran Titik Rapuh Republik yang digelar oleh LBH Yogyakarta di Langgeng Art Gallery. Foto: Januardi/JPNN
Ketua YLBHI Muhammad Isnur memperingatkan bahwa Wewe Gombel masa kini telah bermutasi. Mereka tidak lagi hanya bersembunyi di atas pohon randu atau beringin, tetapi sudah belajar Artificial Intelligence (AI) dan melakukan studi banding politik.
"Dahulu, mereka hanya menculik fisik. Sekarang, Wewe Gombel modern melakukan doxing, serangan digital, dan meretas identitas," ujar Isnur.
Ia menyebut bahwa hantu-hantu ini kini dipimpin oleh sosok-sosok yang mengorkestrasi gerakan dari balik layar, dari era "Wiwi Gorong-gorong" hingga "Wowo Gemoi".
Isnur menekankan bahwa ruang pameran ini adalah "mantra" untuk melawan. Wewe Gombel sangat takut pada keterbukaan, seni, dan keberanian.
"Mereka melemahkan KPK, MK, hingga Komnas HAM. Mereka membangun legitimasi hukum yang serakah. Maka, seni dan arsip di sini adalah cara kami merebut kembali narasi publik dari tangan mereka," katanya.
Arsip dan Karya Penting dalam Pameran
Pameran ini menghidupkan kembali memori melalui berbagai medium seni dan dokumen hukum yang krusial bagi publik, di antaranya:
- Print digital berjudul "Pak Petrust" oleh Abdw Art Project: Karya ini menggali kembali memori kolektif tentang penembakan misterius (Petrus) di awal 1980-an, sebuah teror negara yang meninggalkan luka mendalam di masyarakat Yogyakarta.
- Arsip Kasus Moses Gatutkaca: Dokumen ini mengungkap pola kekerasan negara dalam peristiwa Gejayan. Melalui arsip ini, publik diingatkan bahwa Moses adalah korban nyata dari kekejaman yang sempat coba dikaburkan sejarahnya.
- Seri "Marsinah" oleh Moelyono: Menampilkan kembali wajah dan perjuangan aktivis buruh Marsinah yang dibungkam secara paksa, menjadi simbol perlawanan tubuh buruh terhadap represi kekuasaan.
- Banner "Tanah untuk Rakyat" oleh Taring Padi: Sebuah karya raksasa yang menyuarakan kritik tajam terhadap perampasan ruang hidup petani atas nama pembangunan dan modal.
- Instalasi "Aaand, Scene" oleh Agnita Vo: Menggambarkan sistem hukum di Indonesia sebagai sebuah panggung sandiwara atau sirkus, di mana keadilan hanyalah tontonan bagi warga yang menjadi objek, bukan subjek.
- Palu Hakim "DITOLAK" oleh Werku Jatiraga: Instalasi palu hakim yang hangus terbakar, menyimbolkan akses keadilan yang sering kali tertutup bagi masyarakat kecil oleh birokrasi yang berpihak pada kekuasaan.
- Lini wartawan Udin: Menyajikan 26 poster perjalanan panjang upaya pengungkapan kasus pembuhan Udin dari seniman Anang Saptoto.
Direktur LBH Yogyakarta Julian Dwi Prasetia menutup narasi pameran dengan sebuah analogi yang mendalam.
Baginya, upaya mengumpulkan arsip dan ingatan ini ibarat menyusun kembali serpihan cermin yang sengaja dipecahkan oleh penguasa.
"Meskipun cermin itu telah hancur agar kami tidak bisa melihat kenyataan, setiap serpihan kecil, setiap arsip yang kami kumpulkan, akan membantu masyarakat melihat gambaran utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi," ujar Julian.
Melalui pameran ini, LBH Yogyakarta menghadirkan tujuh tajuk besar, dari represi tubuh buruh, konflik tanah, hingga sosok Artidjo Alkostar sebagai simbol integritas.
Julian menegaskan bahwa agenda ini adalah bentuk sikap politik untuk menolak kejahatan kemanusiaan yang masih terus menghantui. Sebuah upaya akal sehat untuk melawan dongeng Wewe Gombel yang melegenda. Secercah cahaya di tengah titik rapuh republik. (mar3/jpnn)
Posting Komentar untuk "Menghalau Wewe Gombel di titik rapuh republik, kala LBH dan seniman Jogja melawan lupa"
Posting Komentar