Mengenang 21 Tahun Saat Semesta Berhenti Bernapas di Tanah Serambi Mekkah !
/data/photo/2023/09/19/6508db9a7a8f0.jpg)
menggapaiasa.comAda sebuah rasa sesak yang selalu datang mengetuk pintu hati setiap kali angin Desember berembus di ufuk Serambi Mekkah. Bagi dunia, Desember mungkin identik dengan kemeriahan akhir tahun, liburan, dan tawa yang pecah di bawah nyala lampu kota.
Namun bagi masyarakat Aceh, Desember adalah bulan suci penuh air mata, sebuah ruang waktu di mana memori kolektif membawa kita kembali ke tahun 2004 saat semesta seolah-olah berhenti bernapas dan langit runtuh dalam sekejap mata. 21 tahun telah berlalu, namun guncangan itu masih terasa di palung hati yang paling dalam.
Kita tidak hanya sedang membicarakan angka atau statistik tentang berapa banyak jiwa yang hilang, melainkan tentang cinta yang terputus tanpa sempat mengucap selamat tinggal, tentang pelukan ibu yang terlepas di tengah terjangan ombak hitam, dan tentang sebuah bangsa yang dipaksa dewasa oleh luka yang luar biasa hebatnya.
DETIK-DETIK SAAT BUMI BERGUNCANG:
Minggu pagi, 26 Desember 2004 silan, pukul 07.58 WIB. Saat fajar menyapa dengan lembut, bumi tiba-tiba berguncang hebat selama hampir 10 menit.
Gempa tektonik berkekuatan 9,1 hingga 9,3 skala Richter yang berpusat di Samudra Hindia meluluhlantakkan bangunan dalam sekejap. Namun, sunyi yang mencekam setelah gempa hanyalah awal dari mimpi buruk yang sebenarnya.
KETIKA LAUT NAIK KE DARATAN:
Hanya berselang belasan menit, air laut surut secara misterius, namun tak lama kemudian muncul suara gemuruh yang lebih mengerikan dari ribuan meriam.
Air laut berwarna hitam pekat setinggi pohon kelapa mengejar apa pun yang ada di depannya. Lebih dari 230.000 jiwa melayang dalam hitungan menit. Banda Aceh hingga pesisir barat-selatan Aceh rata dengan tanah. Tidak ada lagi batas antara rumah, jalanan, dan pemakaman massal.
KEAJAIBAN DI TENGAH DUKA:
Di tengah kehancuran total, dunia menyaksikan bukti kuasa Tuhan. Masjid Raya Baiturrahman berdiri kokoh di tengah hamparan puing, menjadi tempat perlindungan terakhir. Begitu juga dengan kisah ikonik Kapal PLTD Apung seberat 2.600 ton yang terseret ombak hingga 5 kilometer ke tengah daratan, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya kekuatan air pagi itu.
DESEMBER: BULAN UNTUK PULIH DAN BERDOA.
Hingga hari ini, setiap tanggal 26 Desember, Aceh seolah "berhenti". Jalanan sepi, suara zikir bergema dari tiap sudut desa. Warga berbondong-bondong mendatangi Kuburan Massal Siron untuk menabur bunga di atas tanah tanpa nisan.
Desember di Aceh adalah tentang "Memuliakan Ingatan" dan merawat ketabahan yang luar biasa.
Desember di Aceh memang seolah menjadi bulan di mana semesta mengajak penduduknya untuk terus merunduk dan bersujud. Belum kering ingatan akan luka lama, kenyataan pahit kembali hadir menyapa.
LUKA YANG KEMBALI BASAH: BANJIR DESEMBER 2025.
Seolah ingin menguji ketabahan yang sudah teruji, di penghujung Desember 2025 ini, Aceh tidak hanya berselimut doa peringatan tsunami, tapi juga harus kembali berjibaku dengan air mata.
Hujan deras yang turun tanpa henti selama berhari-hari membuat sungai-sungai meluap, menenggelamkan ribuan rumah di wilayah Aceh Utara, Aceh Timur, hingga Aceh Tamiang.
Di saat warga tengah bersiap untuk berzikir mengenang 21 tahun tsunami, mereka justru harus kembali mengungsi. Suasana pengungsian yang dingin dan gelap seolah memanggil kembali memori kelam masa lalu.
Melihat ibu-ibu yang menggendong bayinya menembus genangan air dan para ayah yang berusaha menyelamatkan sisa harta benda, kita diingatkan bahwa Aceh adalah tanah yang tak henti-hentinya ditempa oleh cobaan alam.
Bencana ini seolah menjadi pengingat pedih bahwa perjuangan masyarakat Aceh untuk berdampingan dengan alam adalah sebuah perjalanan panjang yang belum usai.
Kini, di penghujung Desember 2025, rasa sesak itu terasa berlipat ganda. Dua dekade setelah tsunami berlalu, Aceh memang telah bersalin rupa dengan bangunan megah dan jalanan yang mulus, namun luka itu kembali basah oleh banjir yang mengepung daratan.
Kita belajar bahwa keberanian masyarakat Aceh bukan berarti mereka tidak memiliki rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri tegak meski kaki terendam air dan hati kembali hancur berkeping-keping.
Mari kita tundukkan kepala sejenak, mengirimkan doa terbaik tidak hanya bagi ratusan ribu syuhada tsunami yang telah tenang di pelukan bumi, tapi juga bagi saudara-saudara kita yang saat ini tengah kedinginan di pengungsian akibat banjir.
Biarlah rentetan peristiwa di bulan Desember ini menjadi pengingat abadi bahwa hidup hanyalah mampir sejenak dan alam memiliki caranya sendiri untuk berbicara. Di atas segalanya, hanya kasih sayang, solidaritas, dan iman-lah yang mampu membuat Aceh tetap kokoh.
Aceh tidak akan pernah menyerah, karena dari reruntuhan duka yang terdalam hingga rendaman air yang paling dingin, sebuah bangsa ini telah membuktikan bahwa mereka mampu bangkit dengan martabat yang jauh lebih kuat.***
Posting Komentar untuk "Mengenang 21 Tahun Saat Semesta Berhenti Bernapas di Tanah Serambi Mekkah !"
Posting Komentar