LKKI semprot pemerintah: Stop seremonial, selamatkan situs budaya Sumatra yang sekarat! - MENGGAPAI ASA

LKKI semprot pemerintah: Stop seremonial, selamatkan situs budaya Sumatra yang sekarat!

LKKI semprot pemerintah: Stop seremonial, selamatkan situs budaya Sumatra yang sekarat!

PRMEDAN – Tragedi bencana alam yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya menyisakan duka bagi warga, tetapi juga ancaman nyata bagi fondasi peradaban bangsa.

Sekretaris Jenderal Lembaga Kajian Kebudayaan Indonesia (LKKI), Gunawan Tarigan, melontarkan kritik pedas terhadap lambannya respons pemerintah dalam menyelamatkan aset budaya yang kini di ambang kepunahan.

​Gunawan menegaskan bahwa negara tidak boleh menutup mata saat manuskrip kuno, situs sejarah, dan karya seni lumat oleh bencana. Menurutnya, hilangnya kebudayaan adalah lonceng kematian bagi identitas sebuah daerah.

Kritik Keras: Jangan Cuma "Main" di Hotel Mewah

​LKKI mendesak Kementerian Kebudayaan untuk berhenti membuang-buang anggaran pada kegiatan yang bersifat seremonial. Gunawan menilai, lomba-lomba, kompetisi pers, atau pemberian penghargaan tidak akan memberikan dampak nyata bagi situs yang hancur.

​"Jangan hanya duduk manis di ruangan ber-AC atau sibuk seminar di hotel mewah. Turun ke lapangan! Lihat langsung situs yang hancur dan selamatkan naskah kuno yang masih tersisa," tegas Gunawan dalam keterangan resminya, Minggu (21/12/2025).

​Ia menambahkan, revitalisasi harus menjadi prioritas utama sebelum kementerian menghamburkan uang untuk acara-acara yang tidak mendesak. "Ini soal empati pada kebudayaan yang hampir musnah," cetusnya.

43 Situs di Ujung Tanduk

​Data LKKI menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Sebanyak 43 situs budaya di tiga provinsi kini terancam hilang selamanya akibat banjir bandang dan tanah longsor. Berikut rincian aset yang terdampak:

  • Aceh (34 Situs): Termasuk situs bersejarah seperti Makam Sultan Ma’ruf Syah, Masjid Poteumeureuhom, hingga Rumah Adat Toweren.
  • Sumatera Utara (7 Situs): Meliputi bangunan ikonik Masjid Al-Osmani dan Bagas Godang Sipirok.
  • Sumatera Barat (2 Situs): Rumah pahlawan nasional Rasuna Said serta jalur kereta api bersejarah Sawahlunto–Teluk Bayur.

Ancaman Putusnya Mata Rantai Ilmu

​Selain fisik bangunan, LKKI juga menuntut pendataan terhadap para budayawan dan seniman yang menjadi korban bencana.

Gunawan khawatir, jika seorang maestro seni wafat tanpa sempat melakukan regenerasi, maka kesenian tersebut akan ikut terkubur bersama mereka.

​"Penyelamatan ini tidak bisa ditunda. Ini bukan sekadar urusan semen dan batu, tapi soal menjaga ingatan sejarah agar tidak terputus di generasi mendatang," tutupnya.***

Posting Komentar untuk "LKKI semprot pemerintah: Stop seremonial, selamatkan situs budaya Sumatra yang sekarat!"