Kenapa relokasi korban banjir Sumatera butuh kajian matang

GURU besar sekaligus Koordinator Bidang Pendidikan Pusat Studi Bencana Universitas Andalas, Profesor Febrin Anas Ismail, mengatakan relokasi korban terdampak banjir harus terencana secara matang. Setiap wilayah yang disapu air bah, seperti kawasan Danau Maninjau di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memiliki karakteristik berbeda dengan area terdampak lain, sehingga memerlukan pendekatan khusus.
"Kita harus lihat dulu penyebab rumah terdampak. Apa karena tertimbun longsor, terkena luapan banjir, atau faktor lain? Penanganannya harus dari hulu ke hilir," ujar Febrin kepada Tempo pada Kamis 25 Desember 2025.
Menurut dosen bidang teknik sipil ini, solusi banjir tak bisa dipukul rapat seperti antisipasi gempa yang cenderung berupa pembangunan ulang hunian dengan tingkat ketahanan tinggi. Efek banjir bandang susulan di Jorong Pasar Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, pada 25 Desember lalu menjadi pengingat pentingnya kajian menyeluruh sebelum mengambil keputusan relokasi.
Bila kajian menyeluruh sudah berjalan, termasuk soal keamanan dan kelayakan, pemerintah bisa memutuskan kebijakan relokasi. Menurut Febrin, keputusan relokasi harus berbasis data ilmiah, bukan sekadar reaksi emosional terhadap bencana. "Kita paham warga trauma dan ingin segera ada solusi. Tapi jangan sampai direlokasi ke tempat yang ternyata juga rawan bencana," katanya.
Jika air terus melupa, kata Febrin, ada persoalan mendasar yang belum ditangani. “Bisa jadi karena alirannya, bisa jadi ada hambatan di sungai, atau memang lokasi yang sudah tidak aman lagi," ucap dia. Dengan aliran yang deras di beberapa daerah, seperti Maninjau, Agam, dan Malalo, rumah tidak hanya rusak, tapi juga hanyut terbawa air
Febrin menyarankan kajian untuk membuka peluang mitigasi lain, selain relokasi. Pembangunan tanggul penahan, kata dia, bisa menjadi opsi. Setelah menghitung debit air saat banjir puncak, pemerintah bisa menysesuaikan tinggi tanggul penahan. Dia mengakui pilihan ini hanya bila bisa diwujudkan dengan anggaran yang cukup. "Kalau tidak ada upaya mitigasi, masyarakat harus diberi tahu konsekuensinya. Besok kalau banjir lagi, akan terulang kejadian yang sama,” katanya.
Febrin juga mengingatkan soal hambatan aliran sungai yang memperparah dampak banjir. Banyak kejadian ketika material seperti kayu dan puing-puing melintang di sungai, menyebabkan air meluap dan menggenangi kawasan yang sebenarnya jauh dari sungai. Artinya, pembersihan sungai dari material penghalang juga menjadi bagian penting dari upaya pemulihan.
Posting Komentar untuk "Kenapa relokasi korban banjir Sumatera butuh kajian matang"
Posting Komentar