Ironi jelang malam tahun baru, penjual kembang api di Surabaya keluhkan omzet turun 50 persen

SURABAYA, menggapaiasa.com - Malam pergantian tahun biasanya identik dengan langit yang penuh warna-warni kembang api. Namun, menjelang Tahun Baru 2026, suasana di Surabaya, Jawa Timur, terasa berbeda tidak lagi seramai dulu.
Lapak-lapak penjual kembang api yang biasa ramai, kini H-3 malam Tahun Baru tampak lengang menyusul adanya imbauan pemerintah untuk merayakan tahun baru secara sederhana.
Tak hanya itu, kondisi ekonomi juga disebut menjadi penyebab penjualan kembang api merosot tajam jelang pergantian tahun 2026.
Hani Ananda Prasetyo, penjual kembang api di Jalan Pasar Kembang, mengaku bahwa penjualannya tahun ini mengalami penurunan yang sangat terasa dibandingkan tahun lalu.
“Beda jauh sekali. Untuk tahun ini sepi banget, karena beberapa waktu lalu ada himbauan dari pemerintah tidak boleh menyalakan kembang api," kata Hani kepada jurnalis termasuk menggapaiasa.com, Senin (29/12/2025).
"Jadi, ya kemungkinan orang-orang agak takut, selain itu keadaan ekonomi saat ini orang lebih sayang untuk beli kembang api mending buat kebutuhan sehari-hari. Kalau omset ya turun,” ujarnya lagi.
Menurut Hani, kondisi ini jauh dari pola penjualan normal di tahun-tahun sebelumnya yang biasanya memuncak beberapa hari sebelum malam pergantian tahun.
“Kalau sekarang sepi, jauh hampir 50 persen penurunannya karena himbauan tersebut,” katanya.
Stok Terlanjur Datang, Permintaan Bergeser ke Kembang Api yang Lebih Aman
Kondisi semakin berat bagi Hani dan sejumlah penjual kembang api lainnya karena persiapan penjualan telah dilakukan jauh hari sebelum imbauan dikeluarkan.
“Untuk persiapan kembang api ini sudah sejak awal bulan Desember. Jadi barang-barang sudah datang dan imbauannya beberapa waktu terdekat. Makanya imbasnya kelihatan banget,” ujar Hani.
Apalagi, menurut dia, sebagian pembeli ada yang sudah terlanjur membeli dengan jumlah besar bahkan sampai meminta pengembalian dana.
“Terus ya gimana lagi mereka mintanya dikembalikan. Ya kita tidak bisa nolak karena memang tidak bisa dipakai juga, solusinya ya kita simpan untuk dijual pada waktu Lebaran,” kata pria yang sudah 20 tahun bergabung dengan Toko Harapan Jaya itu.
“Karena ini barangnya impor langsung dari China, cuma lewat Jakarta dulu baru Surabaya. Sistemnya kita dititipin barang, kalau laku kita bayarkan,” ujarnya lagi.
Meski penjualan menurun, Hani mengatakan, permintaan belum sepenuhnya berhenti.
Dia menyebut, pembeli lebih selektif dan cenderung memilih jenis kembang api yang dinilai lebih aman.
“Untuk kembang api yang dipersiapkan sebenarnya tiap tahun sama kurang lebihnya untuk yang pesta-pesta menggunakan yang sekali bakar bisa 100-300 tembakan itu yang harganya lebih mahal,” katanya.
“Untuk saat ini masih tetap ada yang beli, mulai pedagang kaki lima kulakan untuk dijual lagi. Jadi ya sekarang sasarannya ya individu meskipun ada penurunan drastis,” ujar Hani lagi.
Sementara itu, jenis kembang api sederhana masih dicari untuk penggunaan keluarga dan mayoritas pembeli tetap berasal dari wilayah Surabaya dan sekitarnya.
“Dibandingkan yang seperti pipa itu lebih mudah Rp 40.000 isinya per pax empat batang. Lain-lainnya yang dicari air mancur kalau pas dibakar nyembur ke atas dengan tinggi dua meter biasanya buat anak-anak," katanya.
“Ada yang dijual lagi, ada yang untuk dipakai sendiri di rumah atau dibawa liburan. Untuk pembelian minimal per pax mulai dari harga Rp 30.000 sampai Rp 3 juta tergantung kembang apinya,” ujar Hani lagi.
Pedagang Harap Ada Kelonggaran untuk Skala Kecil
Lebih lanjut, Hani berharap kebijakan pemerintah bisa membedakan antara penggunaan skala besar dan kecil.
“Ya kalau bisa begini, misalnya untuk main kembang api untuk pribadi minta tolong diperbolehkan tapi kalau event-event tahun baru tidak boleh ya tidak apa-apa karenakan skala besar,” katanya.
“Tapi, kalau skala kecil seperti di rumah atau mainan bersama tetangga dan keluarga ya diperbolehkan karenakan setahun sekali untuk merayakan malam tahun baru juga,” ujar Hani melanjutkan.
Posting Komentar untuk "Ironi jelang malam tahun baru, penjual kembang api di Surabaya keluhkan omzet turun 50 persen"
Posting Komentar