Diam yang mengubah dunia: teladan keluarga kudus di tengah badai zaman
Diam Yang Mengubah Dunia: Teladan Keluarga Kudus Di Tengah Badai Zaman 28 Desember 2025: Pesta Keluarga Kudus, Penutup Yubileum Ziarah Pengharapan "Di Nazaret, Allah menulis Injil-Nya dalam bahasa kesederhanaan," tulis Venerabilis Jean-Baptiste Berthier, sang pejuang keluarga. Hari ini, ketika kita menutup Tahun Yubileum di tengah dunia yang gelisah oleh konflik dan kesepian, suara diam Yusuf (yang tak terdengar dalam Kitab Suci) justru berteriak menggugah hati. Ia mengingatkan kita: Keluarga bukanlah tempat pelarian dari badai, melainkan bahtera yang dibangun dengan tangan yang setia, di mana Allah diam-diam mengubahkan sejarah.
"Diam Nazaret": Ketika Ketaatan Menjadi Revolusi"Keluarga Kudus adalah sekolah pertama kebajikan, tempat hati belajar mencintai Allah melalui cinta sesama," kata Venerabilis JB Berthier. Dalam Injil Matius (2:13-15), Yusuf (si "diam" yang tak pernah diabadikan suaranya) menjadi gambaran nyata sekolah itu. Ketika malaikat berbisik, "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya...", ia tak bertanya. Ia bertindak dalam diam, tapi hasilnya kelihatan. Keluarga kecilnya selamat dari bahaya.
Diam Yusuf bukanlah kepasifan. Ia adalah ketaatan yang mengguncang takhta Herodes. Ia rela menjadi pengungsi, bekerja sebagai tukang kayu di negeri asing, dan mengubur mimpinya sendiri demi melindungi Yang Tersuci. Di sini, Yusuf menggenapi kata-kata Sirakh: "Hormatilah ayahmu, maka dosamu dihapus" (Sir 3:6). Venerabilis JB Berthier menambahkan, "Dalam rumah tangga Nazaret, keheningan bukanlah kekosongan, ia adalah ruang di mana sabda Allah bertumbuh."
Dari Mesir ke Yubileum: Keluarga sebagai Peziarah RahmatPerjalanan Keluarga Kudus ke Mesir adalah metafora sempurna bagi Yubileum Ziarah Pengharapan yang hari ini kita tutup. Mereka kabur dari kekerasan, hidup sebagai orang asing, dan hanya berpegang pada janji Allah. Venerabilis Berthier menulis: "Setiap keluarga Kristiani adalah Nazaret kecil: tempat Kristus tinggal, bekerja, dan menangis."
Di tahun rahmat ini, Gereja diajak untuk berziarah dari "Mesir" ketakutan ke "Nazaret" kepercayaan melalui dan dengan Membuka Pintu Suci di hati yang terluka oleh konflik keluarga; Menjadi "pagar hidup" seperti Yusuf, melindungi yang rentan dari ancaman dunia modern: narkoba, cyberbullying, kesepian digital; Merayakan kelemahan sebagai saluran kasih Allah, seperti Keluarga Kudus yang justru diselamatkan saat dianggap "tidak berarti" oleh Herodes.
"Keluarga bukanlah museum kesempurnaan, melainkan bengkel kerendahan hati," pesan Berthier. Di sini, Yubileum bukan sekadar ritual, tapi pembaruan komitmen untuk menjadikan rumah kita "gereja domestik", tempat pengampunan lebih kuat daripada kebencian.
Yusuf Modern: Menjawab Krisis Keluarga dengan Iman yang BerototDi era perceraian massal, individualisme, dan kekerasan, Venerabilis JB Berthier menyerukan: "Kembalilah ke Nazaret! Di sana, Allah mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari pelayanan yang tak terlihat." Teladan Yusuf relevan seperti tak pernah sebelumnya:
Pertama, Melindungi dengan Berani. Yusuf, sang "pekerja kasih," mengajarkan bahwa melindungi keluarga berarti: Menjadi perisai bagi anak-anak dari racun budaya instan; Berani "kabur" dari lingkungan yang merusak martabat keluarga, seperti Yusuf meninggalkan Yudea; Menguatkan ikatan melalui doa harian, "Meja makan yang didoakan adalah altar kecil yang mengalahkan iblis," kata Berthier.
Kedua, Bekerja dengan Rendah Hati. Yusuf adalah tukang kayu yang tak malu menghidupi keluarganya dengan keringat. Berthier menulis: "Dalam kerja yang tulus, keluarga menemukan martabatnya sebagai cermin kasih Allah." Di tahun baru ini, kita diajak: Menghargai "kerja tak terlihat" ibu rumah tangga, ayah yang lelah, anak yang merawat orang tua; Menolak budaya instan dengan meneladan kesabaran Yusuf, ia tak mengharapkan kemuliaan, hanya setia pada panggilannya.
Ketiga, Menjadi Cahaya di Kegelapan. "Keluarga Kristiani bukanlah pelita yang tersembunyi, ia adalah api yang menyala bagi dunia," tegas Berthier. Pengharapan kita bukanlah ilusi, tapi iman yang berjalan: Mengubah ruang keluarga menjadi "Mesir kecil" tempat Kristus disembunyikan dari kejahatan dunia; Menjadi suara bagi yang tak bersuara, seperti Yusuf yang diam-diam menyelamatkan nyawa Sang Juru Selamat.
Doa Penutup: Dari Nazaret ke Masa DepanBapa Maharahim,
di hari penutupan Yubileum ini,
kami mengingat kata Venerabilis JB Berthier:
"Allah lebih suka diam bersama keluarga sederhana daripada tinggal di istana tanpa kasih."
Jadikanlah kami seperti Yusuf: berani bangun dari ketakutan,
seperti Maria: taat membawa sabda-Mu dalam rahim hati,
seperti Yesus: setia pada panggilan-Mu meski harus diasingkan.
Semoga Keluarga Kudus Nazaret
menjadi kompas bagi keluarga-keluarga kami
yang utuh, yang retak, yang terluka
agar dalam diam dan tindakan,
kami menjadi peziarah pengharapan
yang tak pernah berhenti mengalir.
Demi Kristus, Putra-Mu,
yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
***
"Dunia tidak diselamatkan oleh mereka yang berteriak paling keras, tetapi oleh mereka yang bekerja dalam diam seperti Yusuf," sebagaimana yang direnungkan oleh Venerabilis JB Berthier.
Di 2026, jangan takut menjadi "keluarga Nazaret modern" secara aktual: Di kamar anak yang gelisah, jadilah Yusuf yang menemani dalam diam; Di meja makan yang retak oleh pertengkaran, jadilah Maria yang membawa Kristus dalam kelemahan; Di ruang keluarga yang sepi, jadilah Yesus yang mengubahkan kesepian menjadi persekutuan.
Karena di sanalah, di antara piring kotor dan doa yang terbata-bata, Allah diam-diam menulis Injil-Nya yang baru. Bangunlah. Ambillah. Berangkatlah.
Posting Komentar untuk "Diam yang mengubah dunia: teladan keluarga kudus di tengah badai zaman"
Posting Komentar