Di Usia Yang ke 6, PRMN Berharap Jadi Tolak Ukur Pemberitaan Secara Nasional
menggapaiasa.comASYIK! Selasa ini, 2 Desember 2025 Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) berusia 6 tahun. PRMN merupakan media daring berjejaring pertama yang mengusung konsep ekonomi kolaboratif yang hingga saat ini telah mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari berbagai lembaga sebagai media nasional.
Kiprah PRMN sebagai media berita berjejaring nasional harus tetap mengedepankan dan terus menyebarkan informasi yang berkualitas dan terpercaya serta adaptif terhadap perubahan zaman. Sehingga keberadaan PRMN jadi bagian dalam kontribusi terhadap ekosistem informasi yang sehat di Indonesia.
Hal itu disampaikan Direktur PT Pikiran Rakyat Bandung, Tia Yuniarti dan Direktur Pikiran Rakyat Media Network, H Kartono,SH. Menurut Tia, refleksi dan harapan besar bagi perjalanan PRMN ke depan dengan usia yang semakin matang ini, PRMN diharapkan terus berkembang jadi entitas media yang tidak hanya kredibel, tapi juga adaptif terhadap perubahan zaman. Tia menargetkan PRMN mampu jadi tolak ukur (benchmark) pemberitaan secara nasional.
"Semoga PRMN semakin berkembang sebagai media yang kredibel, adaptif, dan mampu jadi benchmark pemberitaan secara nasional," ujar Tia Yuniarti.
Tia juga menekankan komitmen PRMN untuk tetap menjaga kontribusinya bagi ekosistem informasi yang sehat di Indonesia. Untuk itu, memasuki tahun keenam, tantangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menjadi sorotan utama.
Sebab, AI dapat digunakan untuk membantu jurnalis dan perusahaan media menyelesaikan pekerjaan yang bersifat monoton dan memerlukan otomatisasi. Namun begitu, Tia pun mengingatkan bahwa posisi AI hanyalah sebagai alat bantu (tools), bukan pengganti peran wartawan.
"AI hanya dapat digunakan sebagai tools atau alat untuk membantu wartawan agar berita orisinal yang didapat dari lapangan bisa ditingkatkan," kata Tia.
Menurut Tia, dengan bantuan teknologi itu diharapkan berita yang dihasilkan bisa lebih relevan, lebih mendalam (in-depth), dan memberikan nilai tambah (value) yang lebih bagi pembaca. Personalisasi Konten, tambah Tia di lanskap digital saat ini, AI memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan oleh publishers.
Kata Tia, teknologi ini dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman pengguna (user experience) melalui penyajian konten yang terpersonalisasi (personalised content) sesuai dengan segmen audiens yang dituju.
“Langkah ini jadi salah satu strategi PRMN dalam beradaptasi dan tetap relevan di tengah persaingan media digital yang kian ketat,” ujar Tia.
Sementara itu, Direktur PRMN Kartono Sarkim mengatakan diusia yang ke 6 tahun ini, PRMN terus memperkokoh posisinya di tengah era konvergensi media yang dinamis. Sebab, terang Kartono kekuatan media hari ini dinilai tidak lagi hanya terletak pada konten yang disampaikan, tapi bagaimana audiens mengenali media itu sebagai sumber berita yang kredibel.
Dikatakan Kartono, seluruh ekosistem PRMN perlu menyiapkan diri dengan dua hal fundamental. Pertama adalah kemampuan memanfaatkan peluang dan kedua adalah tata kelola untuk menjaga kualitas serta kepercayaan.
"Peluang di tahun depan antara lain konvergensi kanal yang semakin terpadu. Pembaca tidak lagi memantau satu media saja. Kita memiliki peluang untuk menghadirkan pengalaman multikanal yang konsisten dan personalisasi melalui integrasi online, cetak, video, podcast, dan live streaming," terang Kartono.
Ditambahkan Kartono, implementasi data insight akan memungkinkan rekomendasi berita yang lebih relevan bagi pembaca, namun tetap tanpa mengurangi independensi editorial yang jadi marwah jurnalisme.
Tantangan Media Dalam menghadapi percepatan teknologi, Kartono menyoroti pentingnya adaptasi terhadap kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan kekuatan data. Bagi PRMN, data merupakan pintu masuk untuk memahami kebutuhan pembaca secara lebih tajam.
"Sementara AI dapat membantu otomatisasi tugas rutin, pendampingan redaksi, dan peningkatan efisiensi tanpa mengorbankan akurasi dan verifikasi," tutur Kartono.
Tak hanya soal teknologi, aspek keterlibatan komunitas (community engagement) juga jadi fokus utama. Model Citizen Journalism serta kemitraan strategis dengan NGO, akademisi, dan pelaku industri nasional maupun lokal dinilai dapat memperkaya konten. "Khususnya konten lokal yang berdampak langsung kepada audience," kata Kartono.
Di sisi bisnis, diversifikasi pendapatan yang sehat jadi peluang untuk memonetisasi media berita. Hal ini dapat dicapai melalui langganan premium, konten eksklusif, kolaborasi merek yang transparan, serta produk berlangganan lintas platform.
Kendati peluang terbuka lebar, Kartono mengingatkan bahwa tantangan di masa depan tidaklah ringan. Kredibilitas dan kepercayaan tetap jadi aset utama yang harus dijaga melalui alur editorial yang jelas, verifikasi faktual, dan kepatuhan terhadap kode etik.
"Kita di tahun-tahun mendatang akan tetap menghadapi disinformasi dan trust gap. Arus informasi yang besar memerlukan verifikasi sumber yang lebih ketat, transparansi proses, serta edukasi literasi media bagi publik," ucapnya.
Selain itu, masih kata artono dinamika kebijakan publik dan regulasi, seperti Publisher Rights, isu privasi, dan aturan platform digital, menuntut adaptasi operasional yang cepat namun tetap taat asas dan patuh hukum.
Menutup pesannya, Kartono menekankan pentingnya pembiayaan jurnalisme yang berkualitas. Hal ini menuntut PRMN untuk pandai menjaga keseimbangan antara konten berbayar dan akses publik. "Tanpa mengorbankan idealisme dan misi kita sebagai media independen," katanya.***
Posting Komentar untuk "Di Usia Yang ke 6, PRMN Berharap Jadi Tolak Ukur Pemberitaan Secara Nasional"
Posting Komentar