Bedeng dan Cerita Bayaran di Onderneming Kabupaten Bandung Barat
PIKIRAN RAKYAT - Bedeng merupakan jejak peninggalan onderneming atau perkebunan-perkebunan lawas di kawasan Kabupaten Bandung Barat. Seiring pamor perkebunan yang meredup, bedeng-bedeng pun semakin menyusut.
Keberadaan rumah pekerja perkebunan tersebut masih bisa ditemui di kawasan perkebunan Panglejar, Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. Deretan bedeng terlihat di sepanjang jalan penghubung KBB-Purwakarta dekat pabrik pengolahan teh.
Bentuknya nyaris serupa berupa satu bangunan yang dipakai oleh dua rumah. Salah satu yang mengisi bedeng di Kampung Panglejar adalah Enan Hidayat (50). Sudah sekitar 30 tahun, ia menghuni bedeng di Panglejar.
"Sateuacanna abdi di Cisomang Barat (Sebelum tinggal di bedeng, saya tinggal di wilayah Desa Cisomang Barat)," kata Enan di kediamannya, Minggu 30 November 2025.
Enan mulai menghuni bedeng setelah bekerja sebagai pengolah teh perkebunan Panglejar. Ia menambahkan, bedeng yang dihuninya masih terbilang baru. Ia memperkirakan, rumah-rumah para pekerja bangunan yang berada di sisi utara Panglejar itu didirikan pada 1984.
Pendirian bedeng itu berbarengan dengan pembangunan pabrik di bagian atas Panglejar. Namun, kehadiran bedeng Panglejar sudah ada sejak zaman Belanda. Lokasi bedeng di masa kekuasaan kolonial Negeri Kincir Angin tersebut berada di sebelah selatan pabrik.
Deretan bedeng itu dikenal dengan istilah bedeng 10 dan Caringin. Perbedaan antara bedeng zaman Belanda dan yang dibangun setelah Indonesia merdeka terlihat dari jumlah kamar tidurnya.
Untuk kamar bedeng zaman Belanda, jumlah kamarnya hanya satu. "Anu ayeuna dua (Kalau bedeng yang dibangun setelah zaman kemerdekaan, kamarnya ada dua)," ucapnya menambahkan.
Perbedaan lainnya, menurut Enan, adalah bagian dindingnya. Ia menyebutkan, bedeng di era Belanda dinding masih menggunakan bata atau masih berupa rumah permanen. Sementara di masa yang lebih baru merupakan bangunan semi permanen. Dinding tembok hanya separuh atau berada di bagian bawah. Sisanya di bagian atas, hanya berupa bahan sejenis/seperti asbes.
Perihal ukuran, Enan menyebutkan masing-masing bedeng memiliki panjang sekira 6 meter dengan lebar 3 meter. Setiap bedeng juga dilengkapi kamar mandi atau jamban. Dulu, pasokan air untuk jamban langsung diberikan oleh pihak perkebuan. Sekarang, air berasal dari bantuan desa.
Meredup
Pamor perkebunan yang sempat berjaya di masa lalu saat ini kian meredup. Jumlah hasil teh di internal Panglejar misalnya, mengalami penurunan. Imbasnya, jumlah pekerja perkebunan pun jadi berkurang sehingga beberapa bedeng mulai ditinggalkan.
Dari total 28 bedeng yang ada di Panglejar, lanjut Enan, terdapat 6 bedeng yang sudah tak dipakai dan dalam kondisi rusak. "PR" juga mendapati adanya bedeng-bedeng yang sudah rata dengan tanah di beberapa afdeling atau cabang perkebunan Panglejar seperti di Pangheotan dan Maswati.
Bayaran
Tradisi warga bedeng lain yang masih diingat Enan adalah bayaran. Bayaran adalah hari pembagian upah para pekerja bangunan. Momen itu menjadi semacam pesta atau hajat kecil masyarakat perkebunan.
Berbagai pedagang membuka lapaknya atau menggelar dagangannya di dekat area pabrik. Bermacam-macam barang dagangan dijajakan, mulai dari makanan hingga pakaian. Para pekerja yang telah mendapatkan upah dari para mandornya bisa membeli berbagai barang atau makanan dijajakan itu.
Kala itu, upah masih diberikan langsung secara tunai atau tidak melalui transfer rekening. "Mun aya bayaran bararungah sadayana (Saat pembagian upah, semuanya bergembira)," ucap Enan lagi.
Ya, kegembiraan bukan hanya dirasakan pekerja perkebunan, melainkan juga para pedagang yang kecipratan rezeki dari berjualan di momen tersebut. Sebetulnya, tradisi bayaran bukan hanya khas Panglejar saja. Hal serupa terjadi di perkebunan-perkebunan lain di dekatnya.
Perkebunan Pasir Ucing di Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy misalnya, memiliki tradisi serupa sebagaimana dikemukakan salah satu warga dan mantan pekerja perkebunanya, Diding, 71 tahun.
Tradisi bayaran saat ini hanya tinggal kenangan seiring meredupnya perkebunan dan perubahan sistem pembayaran. Berbagai pedagang tumplek di dekat perkebunan karet Pasir Ucing tempo dulu untuk menunggu para pekerja belanja sehabis menerima upah. Seperti Panglejar, sebagian bedeng-bedeng di Pasir Ucing juga dalam kondisi kosong atau sudah tak berpenghuni.***
Posting Komentar untuk "Bedeng dan Cerita Bayaran di Onderneming Kabupaten Bandung Barat"
Posting Komentar