Arah baru SGRO usai ditinggal Grup Sampoerna

menggapaiasa.com, JAKARTA – PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) mulai menyiapkan arah baru usai resmi bergabung di bawah bendera POSCO International Corporation.
Sebelumnya, Grup Sampoerna melalui Twinwood Family Holdings Limited telah mengumumkan penjualan seluruh saham SGRO sebesar 65,721% kepada AGPA Pte. Ltd. yang merupakan anak perusahaan POSCO International Corporation.
POSCO kini memiliki lahan sawit di Indonesia seluas 150.000 hektare (ha) atau lebih dari 2 kali luas Kota Seoul, Ibu Kota Korea Selatan setelah resmi membeli 65,721% saham SGRO yang dimiliki Grup Sampoerna melalui Twinwood Family Holdings Limited.
Untuk menebus 1,19 miliar lembar saham SGRO itu, POSCO merogoh kocek sebesar Rp9,44 triliun. Harga per lembar saham SGRO pada transaksi itu Rp7.903 per lembar.
Direktur Utama Sampoerna Agro Budi Setiawan Halim menjelaskan SGRO akan melakukan sinergi dengan pemegang saham terbarunya, yaitu AGPA Pte. Ltd. dan Posco yang akan masuk ke bisnis downstream.
“Ke depannya akan mengarah ke renewable energy business. Itu alasan kenapa Posco masuk ke Sampoerna Agro yang kami ketahui,” kata Budi dalam paparan publik Sampoerna Agro, Kamis (18/12/2025).
Dia menuturkan, sebelumnya Sampoerna Agro dalam beberapa tahun terakhir telah menganalisa untuk masuk ke bisnis downstream. Dia menuturkan Sampoerna Agro memproduksi CPO sebanyak 350.000-400.000 ton CPO per tahun.
Budi melanjutkan, SGRO melihat kebutuhan CPO dari bisnis hilir cukup tinggi. Selain itu, lanjutnya, margin dari bisnis downstream lebih kecil dibandingkan upstream.
Dengan pertimbangan tersebut Sampoerna Agro memutuskan untuk tidak masuk ke bisnis downstream dalam beberapa tahun belakangan.
Adapun, Direktur Sampoerna Agro Heri Harjanto menjelaskan tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal pada kisaran Rp400 miliar hingga Rp500 miliar.
“Sampai September kami sudah realisasikan sebesar Rp230 miliar. Kami lihat, kami mungkin akan bisa merealisasikan capex sekitar Rp400 miliar sampai akhir tahun ini,” ujar Heri.
Sementara itu, untuk belanja modal tahun depan, menurut Heri anggaran capex tersebut masih berada dalam tahap finalisasi. Namun, menurutnya capex tahun depan akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini. Selain itu, lanjutnya, SGRO juga belum menentukan panduan kinerja untuk tahun 2026 mendatang.
Sampai September 2025, total pendapatan SGRO naik 37% secara tahunan menjadi Rp4,6 triliun. Pendapatan dari CPO melonjak sebesar 28% menjadi Rp3,5 triliun secara tahunan, didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) CPO sebesar 15% yoy menjadi Rp14.457/kg dan volume penjualan CPO yang naik 11% yoy.
Pendapatan dari palm kernel (PK), sebagai kontributor terbesar pendapatan kedua, meningkat sebesar 111% yoy yang disebabkan oleh kenaikan ASP PK sebesar 73% yoy menjadi Rp12.495/kg dan volume PK yang lebih tinggi.
Adapun total produksi TBS SGRO mengalami perbaikan sebesar 13% yoy menjadi 1,2 juta ton pada sembilan bulan 2025 berkat meredanya dampak El-Nino yang terjadi pada semester kedua 2023, yang menyebabkan penurunan produksi pada 2024.
Produksi TBS dari kebun inti meningkat 12% yoy menjadi 846.810 ton, sedangkan produksi TBS dari pihak eksternal atau plasma dan pihak ketiga meningkat 16% yoy menjadi 402.820 ton.
SGRO memperkirakan harga CPO akan tetap solid dalam enam bulan ke depan, yang akan didorong oleh ekspektasi permintaan yang kuat menjelang periode Ramadan di kuartal I/2026 serta musim produksi CPO yang lemah pada kuartal awal 2026.
Selain itu, implementasi lanjutan dari B50 di Indonesia juga diperkirakan akan membantu menopang harga CPO.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. menggapaiasa.comtidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Posting Komentar untuk "Arah baru SGRO usai ditinggal Grup Sampoerna"
Posting Komentar