5 Mitos yang Sering Dipercaya Soal AIDS

HARI AIDS Sedunia diperingati pada 1 Desember. Peringatan ini menjadi momentum yang tepat untuk meluruskan berbagai mitos yang masih berkembang di kalangan publik tentang penularan HIV/AIDS. Salah satu anggapan yang paling sering muncul ialah kepercayaan bahwa HIV/AIDS dapat menular melalui kontak sosial.

Padahal, secara ilmiah HIV/AIDS tidak dapat menular hanya karena sentuhan, pelukan, maupun makan dan minum bersama. Pemahaman masyarakat tentang penularan HIV/AIDS perlu diluruskan agar publik tidak terjebak dalam stigma dan kesalahpahaman yang ada.

Tempo merangkum beberapa mitos dan fakta cara penularan AIDS yang masih beredar dan dipercaya masyarakat masyarakat.

1. Berjabat Tangan

Masih banyak orang khawatir penyebaran HIV/AIDS terjadi hanya karena berjabat tangan atau bersentuhan dengan ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS). Padahal faktanya, HIV/AIDS hanya dapat menular melalui cara tertentu seperti hubungan seks tanpa alat kontrasepsi serta penggunaan jarum suntik bersama.

2. Memakai Pakaian Penderita AIDS

Mitos lain yang juga kerap tersebar adalah penyebaran HIV/AIDS akan terjadi melalui keringat. Sehingga orang tidak boleh menggunakan pakaian milik ODHA. Faktanya virus ini tidak dapat hidup di keringat.

3. Batuk dan bersin

Tidak dipungkiri, ketika batuk dan bersin seseorang mengeluarkan cairan, namun hal tersebut tidak dapat menjadi penyebab penularan HIV/AIDS. Faktanya, virus HIV/AIDS hanya terdapat pada darah, cairan sperma, cairan vagina, serta air susu ibu (ASI).

4. Berbagi toilet

Penularan HIV/AIDS paling utama terjadi lewat hubungan seksual tanpa alat kontrasepsi. Berbagi toilet hanya merupakan salah satu mitos yang telah meluas dimasyarakat.

5. Satu kolam renang dengan penerita HIV/AIDS

Mitos lain yang cukup sering tersebar adalah pemularan virus HIV /AIDS saat id kolam reang. Faktanya, virus HIV/AIDS tidak dapat hidup di air. Selain bukan habitat hidup virus, air kolam renang biasanya mengandung kaporit yang berguna untuk membunuh kuman dan virus.

Mengapa Mitos Masih Bertahan?

Di beberapa komunitas, topik kesehatan reproduksi masih dianggap sebagai hal tabu dan dianggap sensitif untuk dibicarakan secara terbuka. Akibatnya, publik lebih dulu mendengar berita yang beredar ketimbang penjelasan tenaga kesehatan. Tidak hanya itu, penyebab mitos tentang HIV/AIDS masih bertahan hingga saat ini adalah rendahnya literasi kesehatan.

Kurangnya akses informasi yang benar serta derasnya penyebaran pesan tanpa sumber yang jelas membuat mitos yang sama berputar dan berlanjut dari generasi ke generasi.

Upaya Pencegahan HIV/AIDS

Meskipun mitos masih bertahan di masyarakat, upaya pencegahan HIV/AIDS harus tetap dilakukan untuk meminimalisir penyebarannya. Mengutip dari laman resmi Rumah Sakit Pondok Indah penerapan perilaku seksual yang sehat menjadi kunci utama pencegahan HIV/AIDS.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guna mencegah penularan HIV/AIDS, antara lain:

1. Menggunakan kondom saat berhubungan intim dengan pasangan yang belum diketahui status HIV nya serta hindari penggunaan kondom secara berulang

2. Tidak bergonta-ganti pasangan seksual

3. Lakukan tes HIV/AIDS secara berkala. Apabila hasil tes positif HIV pada ibu hamil, segera konsultasi dengan dokter terkait penanganan, perencanaan persalinan, dan pemberian ASI

4. Lakukan sunat dapat mengurangi risiko terinfeksi dan menularkan HIV

5. Segera periksakan diri ke dokter apabila mencurigai adanya paparan virus HIV/AIDS setelah berhubungan seksual.

HESTI DWI ARINI

Posting Komentar untuk "5 Mitos yang Sering Dipercaya Soal AIDS"