Puisi sebagai Senjata Politik: Muhammad Alfariezie Lawan Absurditas Wali Kota

LAMPUNG INSIDER- Rumah Darah bukan akhir, kini penyair muda Lampung hadir dengan satir kontemporer yang mengguncang.
Ia memberi empat hal penting menulis puisi kontemporer sebagai kejujuran menilai seorang pemimpin.
Apa formulanya dan seperti apa puisi dari penyair yang telah menerbitkan novel berjudul Rumah Darah ini?
Saat Wali Kota Lupa Membaca Undang-Undang
Seburuk apa wali kota kita berpikir sehingga remaja miskin terjerumus sekolah hantu?
Mungkin tidak lebih buruk dari zombie meski untuk sebatas Undang-Undang tidak mampu memahami
Dan mungkin enggak lebih kacau dari pascol namun faktanya berteriak hingga kita tercengang
Atau barangkali kalah dengan bayi karena nalarnya menerobos aturan sendiri
2025
Karya guru Bahasa Indonesia SMK Samudera Bandar Lampung ini merupakan puisi kontemporer bernuansa kritik politik.
Ia memanfaatkan pertanyaan retoris sebagai pembuka untuk menggugah rasa ingin tahu sekaligus kemarahan pembaca.
Kritiknya diperkuat lewat metafora ekstrem—membandingkan pemimpin dengan zombie, anak kecil penggila game online, hingga bayi—yang berfungsi sebagai satir tajam terhadap lemahnya logika dan tanggung jawab penguasa.
Selain itu, penggunaan hiperbola dan ironi menjadikan nada puisi ini penuh agitasi. Kata-kata seperti “hantu”, “terjerumus”, “zombie” menimbulkan kesan mencekam sekaligus menyindir, seolah menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah bukan hanya salah arah, tetapi juga menjerumuskan kelompok rentan.
Dengan gaya bahasa yang konfrontatif dan imagery yang kuat, puisi ini tidak sekadar karya sastra, tetapi juga seruan moral agar publik menyadari absurditas kebijakan pendidikan yang sedang berlangsung. Berikut ini formula yang ia terapkan:
Perangkat Stilistika yang Terlihat
Pertanyaan Retoris
“Seburuk apa wali kota kita berpikir sehingga remaja miskin terjerumus sekolah hantu?”
→ Bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk menyindir dan menggugah emosi pembaca.
Metafora & Simile (Perbandingan)
“Tidak lebih buruk dari zombie…”
“Kacau dari anak kecil penggila game online…”
“Kalah dengan bayi karena nalarnya menerobos aturan sendiri”
→ Membandingkan pemimpin dengan hal-hal ekstrem (zombie, gamer, bayi) untuk menekankan buruknya kebijakan.
Hiperbola (Pelebihan)
“…berteriak hingga kita tercengang”
→ Melebih-lebihkan dampak untuk memperkuat rasa urgensi.
Satir/Ironi
→ Kritik disampaikan dengan cara “mengejek halus” melalui humor getir. Misalnya, menyebut pejabat lebih kacau dari anak kecil.
Diksi Konfrontatif
→ Kata-kata seperti “hantu”, “zombie”, “terjerumus” memberi kesan menyeramkan, untuk menekan rasa takut sekaligus marah pembaca.
Nada Agitasi
→ Kalimat singkat, tegas, penuh sindiran, digunakan untuk menggugah publik agar tidak diam saja.***
Posting Komentar untuk "Puisi sebagai Senjata Politik: Muhammad Alfariezie Lawan Absurditas Wali Kota"
Posting Komentar