Lahirnya Generasi Hipokrit Akibat Struktur Ekonomi-Politik
KORAN - PIKIRAN RAKYAT - Struktur ekonomi negeri ini meniscayakan hadirnya manusia-manusia hipokrit, munafik, alias asal bapak senang. Bisa jadi kita menolak, tapi itulah kenyataannya.
Empat puluh delapan tahun silam, pada bulan April 1977, Mochtar Lubis --jurnalis sekaligus sastrawan-- membuat pernyataan yang membuat telinga seluruh bangsa Indonesia panas. Saat berpidato di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ia mengemukakan enam sifat khas manusia Indonesia. Keenam sifat, yang sayangnya negatif, itu adalah (1) hipokrit alias munafik, (2) enggan bertanggung jawab, (3) berperilaku feodal, (4) percaya takhayul, (5) artistik, dan (6) berkarakter/berwatak lemah.
Sebagaimana para pendahulu, mungkin saja kita menolak pernyataan Mochtar itu dan menganggapnya sebagai prasangka dan generalisasi yang tidak berdasar sekaligus menyakitkan hati. Kita pun bisa menyangkal, “saya enggak begitu, kok!!!” Apalagi, kita yakin betul, Allah pasti tidak akan memberikan sifat-sifat yang sedemikian negatif kepada bangsa Indonesia. Artinya, kita pun menolak bahwa keenam sifat negatif itu asali (given) pemberian tuhan.
Akan tetapi, jika mau berkontemplasi, setiap individu manusia Indonesia masa kini “mewarisi” setidaknya satu dari keenam sifat tersebut. Apalagi, ketika mencermati kondisi bangsa saat ini, kita akan menemukan kenyataan bahwa pernyataan Mochtar Lubis itu malah semakin menemukan relevansinya. Betul sekali, sifat-sifat itu bukanlah bawaan dari lahir (given) manusia Indonesia. “Itu adalah adaptasi rasional manusia Indonesia terhadap struktur ekonomi-politik yang memang membutuhkan sifat-sifat seperti itu untuk survive (mempertahankan eksistensi diri),” demikian analisis Gilarsi W. Setiyono (GWS) dalam sebuah esai kontemplatif berbentuk obrolan imajiner antara Kabayan dan Tan Malaka, belum lama ini.
Begini penjelasan logisnya. Struktur ekonomi Indonesia, sejak lama, berbasis perburuan rente (rent-seeking), bukan produktivitas. Alhasil, hal paling penting bukanlah seberapa banyak produk yang kamu dihasilkan, melainkan seberapa dekat kamu dengan pihak-pihak yang mengontrol ekonomi. Apalagi, dari dulu, struktur ekonomi Indonesia kan bersifat ekstraktif, berbasis kepada sumber daya alam dan itu semua dikuasai oleh oligarki. Di sinilah pentingnya survival strategy: hipokrit alias asal bapak senang. “Soalnya, kalau jujur melontarkan kritik, itu berarti kamu akan segera kehilangan akses ke sumber daya,” tuturnya.
Nah, oligarki yang kiat menguat meniscayakan terjadinya kegagalan struktural, yakni pendidikan yang salah arah, tidak berjalannya sistem meritokrasi, dan terkikisnya integritas. Oligarki menginginkan pendidikan yang buruk demi menghasilkan generasi yang tidak kritis, tidak kompeten, sehingga merusak sistem meritokrasi, lalu mengikis integritas (salah satu bentuknya adalah korupsi). Semuanya saling mengunci. Coba perhatikan, setiap kali ada upaya untuk menyelesaikan satu masalah, akan muncul “perlawanan” dari tiga masalah lainnya.
“Coba reformasi pendidikan, oligarki akan memastikan bahwa anggarannya dikorupsi. Coba berantas korupsi, meritokrasi yang rusak akan menempatkan orang-orang bermasalah di posisi penegak hukum. Coba bangun meritokrasi, pendidikan yang buruk tidak akan menghasilkan orang-orang kompeten untuk mengisi posisi itu,” ujarnya.
Sifat munafik, asal bapak senang, atau hipokrit ini memberikan sumbangan besar terhadap kemunculkan lima (atau setidaknya empat) sifat lain yang dinyatakan oleh Mochtar Lubis. Hipokrit akan menciptakan manusia-manusia yang enggan bertanggung jawab atau minimal cari aman sendiri. Hipokrit pun meniscayakan hadirnya perilaku feodal, membuat penghormatan-penghormatan berlebihan untuk menyelamatkan eksistensi diri sendiri, terutama di bidang ekonomi. Ketika nasib ekonomi tak bisa dikontrol, kita akan lari kepada hal-hal yang bersifat mistis atau setidaknya menghadirkan kerinduan akan masa silam (romantisme). Pada akhirnya, hipokrit akan menghadirkan jiwa-jiwa yang berwatak lemah sekaligus menciptakan pribadi-pribadi yang oportunis.
Keenam sifat itu, sekali lagi, bukanlah bawaan dari lahir. Sifat-sifat itu diciptakan, lalu diwariskan kepada manusia-manusia Indonesia, dalam periode yang cukup panjang. Sebenarnya, sumber-sumber sejarah merekam dengan baik perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada bangsa Indonesia itu. Perubahan sosial itu dilatarbelakangi oleh motif ekonomi pada masa kolonialisme yang begitu panjang. Pada mulanya, segenap sumber daya --baik alam dan manusia-- dikuasai oleh para penguasa pribumi, lalu dipaksa beralih kepada pemerintah kolonial. Para penduduk dipaksa untuk bermukim dalam sebuah komunitas yang menetap demi efektivitas pengendalian.
Lantaran sangat menguntungkan, pemerintah negeri ini pun mewarisi kebijakan itu sehingga menciptakan keenam sifat buruk manusia Indonesia, sebagaimana dituliskan oleh Mochtar Lubis. Sebenarnya, orang Sunda sempat memberikan “perlawanan”. Sebuah dokumen sejarah menyatakan, hingga paruh kedua abad ke-19 Masehi, sebagian besar orang Sunda masih memegang prinsip, cicing di mana, ngawula ka mana suka.***
Posting Komentar untuk "Lahirnya Generasi Hipokrit Akibat Struktur Ekonomi-Politik"
Posting Komentar