Jika Pasukan Penjajah Menyerang Armada Sumud…
Laporan jurnalis menggapaiasa.comBambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Tunisia
menggapaiasa.com.CO.ID, TUNISIA --Gelap, lalu gaduh. Teriakan memaksa-maksa terdengar. "Sit down... sit down... sit down." Suasana yang mula hening berubah ngeri. Raung sirine kapal dan suara laut imitasi hilang. Diganti derap berantakan dari segerombolan orang-orang yang merangsek masuk. Mereka datang menyerang.
Gerombolan itu membawa pentungan. Lars mereka terasa menendang ke bagian badan belakang. Bahkan hantaman pentungan terasa di kepala. Mereka memaki-maki, menarik semua relawan yang sedang berada di bangku-bangku anjungan. Lalu maksa semua menunduk, tiarap rata lantai.
Maki-maki penyerang berangsur hilang. Lampu dinyalakan. Semua kembali terang. Dan mata baru dapat melihat kursi-kursi yang berantakan. Semua orang dalam posisi yang tak normal. Sebagian masih tiarap. Menunduk menekuk lutut. Saya, pun masih dalam kondisi seperti duduk di antara dua sujud. Tetapi dengan posisi kedua tangan lurus ke arah depan, dan telapak yang terbuka.
Adegan itu sekilas gambaran dari simulasi penyerangan dalam training Global Sumud Flotilla (GSF) di Tunisia, Rabu (3/9/2025). Sekitar 300 orang dari sedikitnya 44 negara jadi peserta dalam simulasi insiden di atas kapal konvoi damai menembus blokade Gaza tersebut. Karena hanya simulasi, saat lampu terang, semuanya tertawa. Lalu bertepuk tangan. Tetapi para pemandu pelatihan dari Steering Committee GSF (yang dilarang untuk disebutkan namanya karena keamanan) mengingatkan, agar para peserta jangan girang.
Karena kata dia, simulasi itu masih sangat jauh dari realita. Kengerian nyata yang diprediksi bakal dialami para peserta konvoi global adalah menghadapi Shayetet-13 yang merupakan unit khusus laut pasukan penjajahan Israel (IDF). Tentara Zionis Israel yang bersenjata modern dan lengkap. Dan dikatakan, skuat itu tak bakal segan menembak sampai mati para relawan, pun aktivis konvoi damai blokade Gaza yang nekat melawan saat disergap di atas kapal.
Bahkan kata si pemandu, gerak-gerak tubuh para relawan yang dianggap oleh tentara penyergap dari Zionis itu mengancam, bisa berujung pada penembakan. Itu mengapa, selama dalam masa training yang digelar di Gedung General Union of Tunisian Workers menekankan para relawan dan aktivis, termasuk wartawan yang ikut berlayar, memahami reaksi tanpa kekerasan dalam menghadapi situasi yang berisiko nyawa itu.
"Tolong jangan bertepuk tangan. Jangan tertawa-tawa. Ini (simulasi) bukan keadaan yang sebenarnya. Yang akan dihadapi jauh lebih buruk dari ini," kata pemandu training tersebut dalam bahasa Inggris. Para pemandu, pun teriak-teriak menyampaikan agar seluruh peserta training, mengecek keberadaan orang-orang di sebelah masing-masing. Apakah masih lengkap, atau ada yang hilang.
"Periksa teman-teman Anda. Tolong periksa orang-orang yang sebelumnya ada di sebelah Anda. Apakah masih ada? Apakah teman-teman Anda di sebelah Anda masih ada?," kata si pemandu. Delegasi Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) yang berjumlah 30 orang dalam simulasi tersebut, pun ternyata ada yang hilang. Satu orang. Semua delegasi dari negara lainnya, pun mengecek rombongan masing-masing. Dan masing-masing negara, relawannya banyak yang hilang.
Para pemandu, kembali mengingatkan. "Kenali teman-teman Anda selama di kapal." Si pemandu menegaskan, para relawan dan aktivis dari manapun tak layak untuk ikut dalam misi konvoi damai menembus blokade Gaza, jika tak mampu kenal, tak mampu akrab dengan sesama di atas kapal damai. Karena konvoi damai menembus blokade Gaza ini, bukan misi main-main. Zionis Israel yang dihadapi. Kebengisan militer penjajah itu, bisa menyambar siapapun.
Aksi damai tanpa kekerasan
Global Sumud Flotilla (GSF) merupakan konvoi damai pelayaran akbar internasional para relawan, aktivis, dan wartawan dari sedikitnya 44 negara. Diperkirakan lebih dari 300 peserta yang ambil bagian dalam pelayaran tersebut. Konvoi dilakukan di Laut Mediterania untuk menembus blokade Gaza yang sudah 23 bulan lebih menjadi target genosida Zionis Israel.
Konvoi tersebut mengambil titik tolak keberangkatan serempak di Tunisia. Meskipun rombongan peserta pelayaran juga ada yang sudah bertolak dari Spanyol, Italia, dan Yunani. Tetapi tetap akan berkumpul di Tunisia. Diperkirakan ada sekitar 70-an kapal yang bakal berlayar. Termasuk lima kapal yang mengangkut 30an relawan, aktivis, dan wartawan dari Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Global Convoy Peace (IGPC). Pelayaran serempak dari Tunisia semula dijadwalkan Kamis, 4 September 2025. Tetapi karena alasan teknis dimundurkan sampai Ahad, 7 September 2025.
Sebelum pelayaran, seluruh peserta aksi damai menembus blokade Gaza itu wajib mengikuti pelatihan dan training. Kewajiban itu digelar dua hari pada 2 dan 3 September lalu. Para pemandu dalam pelatihan tersebut adalah para penyintas Marmara, Handala, maupun Flotilla. Para penyintas tersebut adalah para aktivis, pun juga wartawan dari banyak negara yang pernah mengalami insiden-insiden penyerbuan, penyerangan, bahkan penangkapan di atas kapal oleh tentara Zionis Israel saat berlayar secara damai menembus perairan Gaza.
Para pemandu dalam training tersebut, juga menyertakan para aktivis buruh di Tunisia yang punya pengalaman dalam pergerakan nonkekerasan. Para aktivis buruh di Tunisia itu juga sebagian diantaranya ikut berlayar. Pengalaman-pengalaman para penyintas, menjadi bekal dan acuan keselamatan bagi para relawan, aktivis, pun juga wartawan yang turut berlayar bersama Global Sumud Flotilla kali ini.
Dalam pelatihan, beragam simulasi menghadapi situasi tak terduga saat pelayaran dilakukan. Termasuk simulasi jika tentara Zionis Israel melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal kemanusian itu. Dan para pemandu menegaskan, berulang-ulang bahwa apapun yang terjadi selama pelayaran, basis pemahaman para relawan dan aktivis, termasuk wartawan, harus tanpa kekerasan. Meskipun Israel Occupation Force (IOF) melakukan penyerangan sampai ke atas dan dalam kapal.
Dalam salah satu materi pelatihan aksi tanpa kekerasan itu, para pemandu mengajari semua relawan yang akan berlayar tentang bagaimana sikap tubuh, dan ucapan saat menghadapi sergapan IOF. Seperti tangan yang tidak boleh terangkat sampai di atas kepala. Karena IOF menganggap sikap tubuh itu, sebagai bentuk perlawanan yang dinilai sebagai gestur ancang-ancang membalas serangan.
Sikap tanpa perlawanan yang disampaikan para penyintas kepada para peserta pelayaran, dengan mencontohkan posisi kedua lengan lencang ke depan, dan posisi telapak terbuka. Para pemandu dari kalangan penyintas juga mengingatkan para peserta pelayaran untuk jangan mencoba-coba mengambil inisiatif perlawanan dengan benda-benda tertentu. Karena sikap tubuh yang tanpa perlawanan merupakan tameng paling efektif untuk menutup celah IOF bertindak brutal.
Ucapan, pun menjadi acuan dalam paham tanpa kekerasan untuk misi damai menembus blokade Gaza ini. Para penyintas mengatakan jika IOF melakukan penyergapan, dan penyerangan ke atas kapal, semua relawan dan aktivis pasti akan ditangkap. Lalu semua barang-barangnya akan disita, dan dipastikan tak akan kembali. Termasuk seluruh alat-alat komunikasi, dan publikasi. Lalu mereka yang ditangkap itu, akan diinterogasi untuk menentukan status hukum.
Dalam introgasi itu, kata penyintas Handala, Jacob Berger mengatakan bakal banyak pertanyaan-pertanyaan jebakan yang krusial menentukan. IOF akan menanyakan tentang hal-hal yang jawabannya dianggap sebagai bukti delik mendukung kegiatan terorisme dan anti-Zionis Israel. Seperti pertanyaan atas pendapat mengenai Hamas, dan pendapat lain tentang kelompok-kelompok pejuang untuk kemerdekaan Palestina. Pun para relawan hidup yang ditangkap akan dimintakan pendapat soal serangan 7 Oktober 2023.
Tapi kata Jacob, apapun, dan situasi bagaimanapun yang bakal dihadapi para peserta Global Sumud Flotilla, tetap lebih baik ketimbang nasib yang saat ini dialami masyarakat di Gaza. Karena itu Jacob mengatakan misi menembus blokade Gaza kali ini harus menjadi gerakan global untuk dapat mengakhiri penderitaan rakyat Palestina di Gaza.
"Apapun yang Anda alami, apapun yang Anda rasakan nantinya. Itu masih lebih baik dari apa yang saat ini dialami masyarakat di Gaza," kata Jacob. Kata dia ribuan masyarakat di Gaza dihadapkan pada pinggir jurang kematian yang pasti. Ancaman serangan brutal Zionis Israel. Dan blokade Zionis Israel yang membuat seluruh warga di Gaza, menuju kematian akibat kelaparan. Sampai pada agenda pemusnahan atau genosida.
Posting Komentar untuk "Jika Pasukan Penjajah Menyerang Armada Sumud…"
Posting Komentar