Rocky Gerung Sindir Tajam Dedi Mulyadi: Visualisasi KDM Merendahkan Pemikiran Publik!
RUBLIK DEPOK – Pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang disiarkan pada hari Sabtu, 24 Mei 2025, analis politik Rocky Gerung menyampaikan kritikan tajam kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Selama perdebatan yang cukup panas, Rocky mencela strategi politik Dedi karena lebih mementingkan aspek penampilan permukaan daripada ideologi dan misi substansial, merujuk hal tersebut sebagai bagian dari perilaku “publik menjadi penonton.” Sosietas Spektakel seperti halnya teori yang diajukan oleh pemikir Guy Debord.
Rocky memulai tanggapannya dengan mengatakan bahwa membanding-bandingkan Dedi Mulyadi dengan sosok seperti Mulyono adalah kurang tepat. Dia menekankan bahwa patokan kepemimpinan ideal harus merujuk kepada figura semacam Soekarno, yang berhasil membaurkan retorika dengan argumen yang kokoh. "Mengapa perbandingannya bukannya Bung Karno? Bung Karno berbicara menggunakan retorika namun logikanya masih utuh," ungkap Rocky. Menurut dia, baik Dedi Mulyadi maupun Mulyono cenderung lebih fokus pada aspek visual daripada esensi ideologis atau konsep.
Menurut Rocky, masalahnya sebenarnya tidak berada di pribadi Dedi Mulyadi, tetapi lebih kepada masyarakat yang memakan "sederhanaan dangkal" yang disajikan oleh tokoh-tokoh umum seperti Dedi. Ia merujuk ke teori untuk menjelaskan hal ini. Masyarakat dari Spektakel Rocky menyatakan bahwa masyarakat lebih condong pada hiburan sederhana yang dijual seperti produk. Dia berkomentar, “Yang kita lihat adalah pameran performa belaka, bukan ideologi atau visi.” Menurutnya, meskipun Dedi Mulyadi memulai dengan gambaran yang sederhana, apa yang dia maksudkan tak banyak dikenang oleh publik. Contohnya, usulan Dedi agar para anak dikirim ke barak tentara demi disiplin merupakan metode yang dangal. Rocky lalu merujuk kepada pandangan Michel Foucault dalam perbincangannya tersebut. docile body , tempat di mana pasukan militer hanya menegakkan disiplin fisik tanpa mempertajam kreativitas mental.
Selanjutnya, Rocky mengomentari pandangan negatif terhadap tingkat intelektual masyarakat Indonesia yang dianggap masih rendah, didasarkan pada angka rata-rata IQ nasional yaitu 78. Menurutnya, hanya dalam suatu komunitas dengan nilai tersebut pemikiran sederhana dapat diterima. Dia juga mencibir metode kepemimpinan yang bergantung pada pemberian hadiah atau BLT sebagai strategi untuk menjaga ketenaran, hal ini ia gambarkan sebagai upaya "menjual kesederhanaan".
Rocky juga menekankan kebutuhan untuk memulihkan sisi intelektual dalam politik di Indonesia. Dia menjelaskan bahwa para pemimpin sesungguhnya perlu dapat menciptakan argumen yang bisa dipertimbangkan dan didiskusikan secara rasional, daripada hanya menjadi penjual ide yang menghindar dari kritikan. Rocky berkata dengan nada sindiran, “Pemimpin membuat argumen agar ditolak, bukannya seperti orang yang melakukan zina jika ada tanggapan.” Dia lalu menegaskan tentang fenomena tersebut. Masyarakat dari Spektakel menyebabkan masyarakat kian ketagihan menyaksikan kebodohan, suatu pola yang perlu diputus dengan mengenalkan penyaringan intelektual serta akademis dalam bidang politik.
Menghadapi kritikan dari Rocky, Dedi Mulyadi lewat beberapa saluran dinyatakan menjawabnya dengan menyebut dirinya cenderung mendukung orang-orang yang punya "ide sederhana", tetapi mampu menciptakan hasil konkret, misalnya ladang pertanian, dibanding mereka yang cuma fasih bicara saja. Di pihak lain, Rocky teguh pada pendiriannya bahwa produk fisik yang diciptakan tanpa adanya pemikiran jernih dan matang hanya bakal membuat situasi umum semakin stagnan di tingkat permukaan.
Perbincangan ini mendapat perhatian besar karena membongkar tensi yang ada antara gaya populis dan intelektual dalam kancah politik Indonesia. Akhir diskusi oleh Rocky disertai ajakan untuk menyuntikkan lagi paradigma intelektualitas ke dalam ranah politik demi persaingan global bagi negara tersebut. Ia menambahkan, “Indonesia membutuhkan para pemimpin sejati, tidak sekadar pedagang pengaruh. Duta-duta kami tampak tak memiliki pengetahuan cukup di pentas dunia, hal ini sungguh memalukan.” Dia juga merujuk pada kemahiran Soekarno dalam menggunakan logika, dibanding kondisi tokoh-tokohnya masa kini yang dirasa kurang.
Posting Komentar untuk "Rocky Gerung Sindir Tajam Dedi Mulyadi: Visualisasi KDM Merendahkan Pemikiran Publik!"
Posting Komentar